Selasa, 16 Agustus 2022

Aku Tak Bisa Mengerti

Mari kita bertukar nama; aku menjadi kamu, kamu menjadi aku.

Kamu pun membuka mata. Di seberang jendéla, sang bulan telah terbit. Untungnya, bergumpal-gumpal bintang menutupi terik lembutnya, sehingga dinginnya tidak terlampau panas menyengat kulit. Begitu bangun, tempat tidur kamu tinggalkan begitu saja. Biarlah dia merapikan dirinya sendiri saat nanti kamu kembali untuk memekarkan bunga-bunga mimpi.

Terlintas di matamu sebuah bingkai foto di atas méja saat sedang berjalan ke dapur. Buram, tak terlalu jelas kedua sosok yang ada di lembaran fotonya. Namun, kamu masih mengetahui betul salah satunya adalah aku. Entah siapa satu orangnya lagi. Biarpun bingung, tak boleh berlama-lama kamu menatapinya; perutmu sudah rata, lelah berkeroncong meminta pasokan makanan.

Seperti biasa, hari ini kamu hendak menyarap sepiring mi. Sebungkus mi goreng pun kamu rebus dalam pembakaran. Asap yang mengepul meniupkan hawa sejuk ke seluruh tubuhmu, membuatmu menggigil di hadapan kobaran api. Setelah mi tercerai-berai, kamu pun menuangkannya ke atas piring.

Seséndok mi kamu suapkan ke dalam mulut. Bumbu bubuknya, kécapnya, sambalnya, minyaknya—semua bersatu padu, menciptakan cita rasa hambar tawar yang sangat menggoyang lidah. Lama-lama, mi yang terhidang lezat di atas piring berubah menjadi seonggok barang kuning kecokelatan yang tak memikat seléra.

Habislah peralatan makan dicuci sampai gosong, kamu pun kembali menuju kamar. Ternyata, tempat tidurmu masih berantakan, kusut musut di sana-sini. Masa bodoh; kamu tetap membaringkan diri di atas kasur, lamat-lamat meratapi rembulan yang terus bersinar di balik jendéla.

Lalu, tanpa aba-aba, kamu pun berdiri, meninggalkan kamar, meninggalkan rumah, berjalan menuju pelataran. Duduklah dirimu di samping sebatang pohon tempat bulan bersarang empuk, yang cabang-cabangnya menghadapi arah matahari terbenam di sebelah timur. Di sini, kamu tidak sendirian; rerumputan bergoyang menemani, dedaunan bekersik menemani, tapi tidak ada diriku di sini.

Mataku mendadak dingin. Linangan air mata jatuh mengairi pipi.

Ah, ya Tuhan, kenapa begini? Kenapa harus begini?

Mari usaikan semua ini, tukarkan kembali nama kita berdua; aku menjadi aku, kamu menjadi kamu.

Aku pun membuka mata. Di seberang sana, bulan dan bintang hanya berdiam diri memancarkan sinar redupnya. Bahkan angin yang bertiup sedemikian kencang pun tidak mampu berbuat apa-apa. Tidak ada pula teriakan yang datang dari cabang-cabang pohon saat kamu memutuskan mengikat simpul pada salah satunya.

Kenapa? Kenapa harus begini?

Sekuat apa pun kutempatkan diriku pada dirimu, seniat apa pun kuposisikan diriku menjadi dirimu, aku tak bisa mengerti.

Aku tetap tidak bisa mengerti.

Aku tak bisa mengerti alasanmu tidak memberitahuku. Aku tak bisa mengerti alasanmu meninggalkanku. Aku tak bisa mengerti alasanmu menyatu dengan bintang-bintang. Aku tak bisa mengerti alasanmu berayun lemah ditiup angin malam. Aku tak bisa mengerti alasanmu tergantung lunglai di batang pohon ini.

Aku tak bisa mengerti alasanku tak menemanimu malam itu.

Aku tak bisa mengerti alasanmu tak bisa kembali.


Minggu, 10 April 2022

Bertarik Urat

Duduk di sini menenangkan, ya, tahu-tahunya. Biarpun kasar dan tunggang-tunggit, sudah kutemukan bagian yang nyaman kududuki. Selain itu, sinar mentari tidak menyengat di sini. Aku pun meraba-raba samping kiri dan kanan. Tanganku mendapati sesuatu yang besar lagi kasar, dan agaknya tinggi. Kemudian, anak angin bertiup. Kudengar gemeresik dari atas sana. Tentulah ini sebatang pohon, pantas tempat ini teduh benar.

"Aih, Ri! Di sini, tahunya."

Langsung kukenali panggilan itu. "Mencariku, ya, Lang?"

Rumput berderis-deris mengiringi derap langkah yang kian mendekat. "Dah kucari ke ceruk-meruk kampung, malah duduk di batu."

Aku pun tergelak. "Batu, ya, ini? Pantas kasar."

"Haah," balas Alang. Ia pun terdiam agak lama sebelum berucap, "Sampai bantaran sungai, lagi. Bingung aku, macam mana boléh engkau berjalan ke sini. Tongkat kau itu mana? Dari tadi tak kulihat-lihat."

"Ah, iya, tak kubawa tongkatku," ucapku tersadar. "Dari tadi aku hanya berjalan-jalan, lah, menendang-nendang sama menggapai-gapai biar tahu ada-tidaknya penghalang, héhé."

Alang berdecak-decak. Tentulah ia sedang menggéleng menahan tawa. "Bilang, lah, mau pergi-pergi. Ketakutan aku tadi habis sadar kau hilang." Ia pun pelan-pelan menarik tangan kananku. "Yuk, ah, pulang. Nanti emak-bapak kau ikut-ikutan kalang-kabut habis sadar juga."

Tersenyumlah aku. "Terima kasih, ya, Lang," ucapku sebelum tanganku kutarik balik. "Sayangnya, aku masih mau duduk-duduk di sini. Di sini, kan, sudah tenang, teduh pula."

Alang mengaduh panjang. "Itu, lah, bertarik urat terus kelakuan kau ini. Nanti kenapa-napa macam mana? Jangan sampai engkau malah tersesat terus terluka, Ri, Ri."

"Ah," aku pun berceletuk sambil terus tersenyum, "bilanglah engkau ini perhatian, Lang, sampai-sampai takut aku terluka."

Kembalilah Alang berdecak. "Metari," panggilnya agak panjang, "pulang, sini."

Tawaku tak mampu kutahan lagi. Biarpun tak mampu kulihat, aku tahu benar Alang tengah dimakan malu, lantaran tak berucap apa-apa sedari tadi.

Tiba-tiba, tebersit sebuah gagasan di hatiku. "Oi, Lang. Ketimbang aku yang pulang, cobalah engkau yang duduk juga di sini," ajakku sembari menepuk-nepuk bagian batu di sebelahku.

Agak lama kutunggu balasannya. Namun, bukannya ditolak, aku malah mendapati tanganku diangkat, lalu diletakkan di atas pahanya. Digenggam-genggam pula tanganku ini; langsunglah aku terkelu lidah, malu mau mengucapkan apa-apa.

"Jujur," ucap Alang memecah hening, "aku agak bingung mau menanggapi bersikeras kau itu macam mana. Kemarin-kemarin engkau menari-nari di tengah kampung, terus bésoknya engkau main sorok-sorok dan bersembunyi entah di mana, bésoknya lagi engkau hampir jatuh ke sungai, tepat sungai depan kita ini …."

Aku hanya dapat tercenung mendengarkan pengaduannya ini. Lantas, bertanya-tanyalah aku dalam hati: semenyusahkan itukah aku? Sudah buta, sering berulah lagi.

"Bukan aku seorang yang takut kau kenapa-napa, Ri; orang tua kau pun takut."

"Héhé," ucapku. "Ampun, ya, aku malah sering berulah macam ini. Sekiranya tak buta, boléh jadi aku tak menyusahkan orang-orang."

Di luar perkiraanku, Alang malah tertawa. "Namun, ya, malah itulah yang kusenangi. Berkali-kali engkau membuat kita orang takut, berkali-kali pula engkau menunjukkan kau tak kenapa-napa. Hari ini juga, kan; aku lagi sibuk menangani rumah asuhan, engkau berkelana ke sini, tetap tak kenapa-napa juga.

Aku juga minta ampun, lalai dengan kau. Lupa aku, harus mengawani kau juga, bukan hanya anak-anak yang lain."

Terkunci rapat sudah kedua bibirku. Ah, malu benar hatiku ini! Seperhatian itu, sesayang itu orang di sampingku ini.

Sejenak, kami berdua bergeming. Gemeresik dari atas kembali mengisi hening, diiringi gemericik yang datang dari arah hadapan.

Barulah terbayang yang harus kuucapkan untuk menyambung percakapan. "Jadi, boléh, lah, aku pergi-pergi lagi, selama tak kenapa-napa?"

Alang pun terkékéh. "Terserah, lah. Namun, janji dulu, engkau harus bilang sebelum pergi. Jadinya, habis ingin dicari, aku dah tahu kau ada di mana."

Aku mengangguk-ngangguk. "Iya, iya, janji."

Kami pun kembali terdiam sebelum Alang belakangan berdiri. Namun, tanganku masih ada dalam genggamannya. "Dah, yuk, pulang. Jangan-jangan anak-anak rumah asuhan dah mencari-cariku, aku malah berduaan dengan kau di sini."

Senyumku kembali datang, lalu aku berdengung. "Macam apa, ya, jadinya, habis kubilang Alang berduaan dengan Metari di pinggir sungai? Anak-anak tentulah tak ada yang tak senang."

"Aih, udah, udah! Yuk, pulang!" serunya. Kali ini, tak pakai menunggu-nunggu lagi, Alang menarik tanganku. "Sini, biar kutuntun. Takutnya, ada apa-apa di jalan. Mana tongkat kau tak dibawa, lagi."

Aku menahan tawa, mau tak mau mengikuti perintahnya. Berdua, kami menyusuri gemericik air, meninggalkan kersik di atas batu yang kini kian menjauh.

Jumat, 11 Maret 2022

“Waktu” dalam Cakap Melayu: Bagian Keempat

— o — Bagian Keempat — o —

Urutan, Lingkungan, Kawanan, dan Perulangan

— o — o — o —

Sebelumnya, kita sudah mengetahui kalau kata belakangan mempunyai dua arti yang bertolak belakang tergantung kontéks:

• Baru-baru ini

• Nanti; kemudiannya

Kalau dicermati lebih lanjut, kedua makna ini diungkapkan tergantung kata tersebut merujuk ke mana: lingkungan dan kawanan.

Ketika merujuk ke lingkungan sekitar, kata belakangan memiliki makna “baru terjadi”:

Pohon yang belakangan dilalui tinggi-tinggi.

Sementara itu, ketika merujuk ke kawanan sendiri, kata tersebut memiliki makna “nanti”:

Dia akan makan belakangan.

Jadi, kita mempelajari dua pembagian urutan di sini, yaitu: urutan lingkungan dan urutan kawanan. Urutan lingkungan merujuk kepada lingkungan sekitar, sementara urutan kawanan merujuk kepada anggota kawanan sendiri.

***

Masih ada banyak lagi penanda urutan yang belum dicontohkan di dongéngnya. Karenanya, penanda-penanda yang penulis ingat akan dirangkum dalam diagram dan tabel di bawah ini:


***

Pada bagian kedua, telah dipaparkan juga bahwa bahasa Indomelayu juga memiliki penanda perulangan. Yang sudah dipaparkan yaitu:

• Hari (perulangan terbit-terbenamnya mentari)

• Pekan (perulangan beberapa hari berdasarkan barang yang dijual di pekan)

• Bulan (perulangan berubahnya penampakan bulan)

• Tahun (perulangan datangnya kemarau, penghujan, dan penuaian)

Selain keempat perulangan tersebut, masih ada satu lagi yang ternyata bisa diterapkan kepada semua hal, tidak khusus seperti keempat perulangan di atas:

• Kali

***

Lengkap sudah pembahasan mengenai pembagian “waktu” dalam cakap Melayu :3

“Waktu” tidak diartikan sebagai sesuatu yang abstrak, tapi diartikan dengan lebih praktikal: hubungan urutan antara pergerakan kawanan dengan lingkungan, serta perulangan kejadian alam dan buatan. Dengan pengertian seperti ini, “waktu” dipandang sebagai sesuatu yang lebih nyata, juga dialami bersama-sama anggota kelompok masyarakat.

“Waktu” dalam Cakap Melayu: Bagian Ketelu

— o — Bagian Ketelu — o —

Uraian

— o — o — o —

Mari kita perhatikan baik-baik kata-kata penghubung di dalam dongéng di bagian satu, mulai dari paragraf kedua:

Tahu-tahunya, selagi berjalan, pepohonan yang berlalu pun berganti macam. Yang tadinya pohon-pohon kélor kini menjadi pohon-pohon rambutan. Belakangan, pohon rambutan yang kamu lalui péndék-péndék. Ke hadapan, kamu melihat pohon-pohon yang lebih tinggi yang akan kamu lalui.

Dari situ, kita mendapatkan tiga penanda urutan:

• Berlalu

• Belakangan

• Ke hadapan (atau “ke depan”)

Kata berlalu mengungkapkan bahwa sesuatu telah terjadi. Pohon-pohon yang berlalu kamu lalui dianggap memasuki waktu yang telah terjadi. Kata belakangan mengungkapkan konsép yang serupa, tapi tak sama: berlalu mengungkapkan kejadian yang sudah terjadi secara keseluruhan, sedangkan belakangan mengungkapkan kejadian yang baru-baru ini terjadi. Bertolak belakang dengan keduanya, kata ke hadapan menggambarkan kejadian yang belum terjadi, lantaran belum dilalui dan belum berlalu. Dari sinilah kita mendapat ungkapan “masa depan” :3

Ingat baik-baik kata belakangan itu, karena nantinya, akan ada suatu pembahasan menarik ;3

Sekarang, mari kita téngok paragraf ketiga:

Kamu menengadah. Hari sudah melampauimu, sudah berlalu meléwatimu. Sampai kapan lagi kamu harus berjalan? Danau belum juga terlihat. Mulutmu kering menahan haus, harus segera diairi.

Kita mendapatkan lagi dua kata penanda urutan:

• Lampau

• Léwat

Sama halnya dengan lalu, kata lampau dan léwat menggambarkan kejadian yang sudah terjadi. Dari sinilah kita mendapatkan ungkapan “masa lampau” dan “masa lalu” :3

Terakhir, mari kita lihat paragraf keempat:

Ani dan Bintang sampai ke danau lebih dahulu. Keduanya sudah sampai sebelum kamu, terus meminum air dari danau yang sungguh jernih itu. Kamu pun sampai, lantas ikut meminum air danau. Kemudian, Cantik dan Damar datang belakangan. Kalian berlima pun dapat memuaskan haus yang sedari tadi mengganggu.

Lagi-lagi, kita mendapatkan kata penghubung penanda urutan, yaitu:

• Lebih dahulu (atau “dahuluan”, “lebih dulu”, “duluan”)

• Kemudian

• Belakangan

Kata dahulu mengungkapkan bahwa ada sesuatu yang berada di depan kita, dan karena ada di depan kita, sesuatu itu mengalami kejadian sebelum kita. Karenanya, sesuatu yang ada dahulu dimasukkan ke dalam masa lampau. Sementara itu, kata kemudian mengungkapkan bahwa ada sesuatu yang ada di belakang kita, dan karena ada di belakang kita, sesuatu itu mengalami kejadian sesudah kita. Karenanya, sesuatu yang ada kemudian dimasukkan ke dalam masa depan.

Kalau Pembaca Sekalian bingung kenapa yang kemudian bisa ada di belakang, coba perhatikan kemudi perahu tradisional (bukan yang berbentuk roda!) ada di mana :3

Lalu, ada kata belakangan.

Sebelumnya, sudah kita ketahui kalau belakangan mengungkapkan masa lampau yang baru saja terjadi. Namun, pada penggunaannya kali ini, kata belakangan justru mengungkapkan kejadian yang belum terjadi. Hal ini dikarenakan kata belakangan di sini merujuk bukan pada lingkungan yang dilalui, melainkan pada urutan anggota kawanan sendiri.

Perbédaan antara “lingkungan” dan “kawanan” ini akan dijelaskan lebih lanjut di bagian selanjutnya :)

“Waktu” dalam Cakap Melayu: Bagian Kedua

— o — Bagian Kedua — o —

Landasan

— o — o — o —

Suatu hari, aku disuguhkan postingan unik di grup kepenulisan di Facebook. Isinya meminta ulasan anggota grup soal buku yang jadi buah bibir kalangan sejarawan amatir dan umat goyah iman: Sejarah Dunia yang Disembunyikan (The Secret History of the World) karya Jonathan Black.

Sehabis berkali-kali mendapat kontén tentang buku tersebut, akhirnya aku mengalah dan mulai mencari PDF-nya, atau seenggaknya pratinjaunya. Berkat bantuan suatu situs yang teramat sangat membantu, aku pun kesampaian juga melayangkan pandanganku membaca bab pertamanya.

Aku pun termenung.

Bukan, bukan soal ketuhanan. Bukan juga soal penjelasannya akan penciptaan dunia. Bukan pula soal pemikirannya tentang manusia ialah cerminan Tuhan.

Aku termenung karena penjelasannya soal waktu:

“Waktu hanyalah ukuran untuk perubahan posisi benda-benda di alam raya ….”

Selama ini, aku kebingungan menjelaskan “waktu” itu apa. Di benakku, terlampau abstrak konsép “waktu" itu. Namun, habis membaca klausa itu, aku seolah tercerahkan. Terang juga akhirnya maksudnya “waktu”.

Namun, tunggu dulu. Jangan cuma dari satu sumber aku mengambil pengertiannya. Karena aku penutur bahasa Indonésia, Yang Mulia KBBI sudah tentu jadi rujukan utama. Menurutnya, “waktu” ialah:

“Seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan, atau keadaan berada atau berlangsung.”

Jadi, tampaknya yang kita artikan sebagai “waktu” ternyata sekadar urutan. Urutan kejadian yang sudah berlangsung, yang tengah berlangsung, dan yang akan berlangsung.

Lantas, kalau “waktu” sejatinya sesimpel “urutan”, kenapa bahasa Indomelayu aslinya tak mempunyai kata khusus untuk konsép satu ini? Bandingkan dengan bahasa-bahasa asal kata-kata serapan Indomelayu:

• “Waktu”, dari وقت (waqt) bahasa Arab;

• “Masa”, dari मास (māsa) bahasa Sansekerta;

• “Périod(e)”, dari periode bahasa Belanda dan period bahasa Inggris;

• Dll.

Sementara itu, bahasa Indomelayu sendiri tidak punya apa-apa yang persis. Paling tidak, ada kata-kata berikut:

• Hari

• Pekan

• Bulan

• Tahun

Dari sinilah aku kemudian sadar: “waktu” tidak mencakup “urutan” semata, tapi juga perulangan. Hari diulang berdasarkan kedatangan matahari, bulan diulang berdasarkan perubahan bulan, dan tahun diulang berdasarkan kedatangan musim. Kedua konsép ini—urutan dan perulangan—dicakup dalam satu kata kecil, yang sayangnya tidak dimiliki bahasa Indomelayu dari sananya.

Jadi, apa yang dimiliki bahasa Indomelayu?

Jawabannya ternyata sungguh sederhana. Boléh jadi karena sudah kita pahami selayang pandang, boléh jadi pula karena Pembaca Sekalian sudah membaca dongéng di bagian kesatu—kata-kata tertentu ditebalkan dan digarisbawahi bukan tidak ada alasan, lo!

Maka, mari kita uraikan kebahasaan Indomelayu dalam mengungkapkan waktu di bagian ketiga :)

“Waktu” dalam Cakap Melayu: Bagian Kesatu

— o — Bagian Kesatu — o —

Dongéng

— o — o — o —

Kamu tengah berjalan beriringan dengan kawan-kawan. Di depanmu, ada Ani dan Bintang. Di belakangmu, ada Cantik dan Damar. Kalian berjalan menapaki tanah lurus, dan di kiri-kanan kalian, berjajar pepohonan rindang. Tujuan kalian ialah sebuah danau di hujung hutan.

Tahu-tahunya, selagi berjalan, pepohonan yang berlalu pun berganti macam. Yang tadinya pohon-pohon kélor kini menjadi pohon-pohon rambutan. Belakangan, pohon rambutan yang kamu lalui péndék-péndék. Ke hadapan, kamu melihat pohon-pohon yang lebih tinggi yang akan kamu lalui.

Kamu menengadah. Hari sudah melampauimu, sudah berlalu meléwatimu. Sampai kapan lagi kamu harus berjalan? Danau belum juga terlihat. Mulutmu kering menahan haus, harus segera diairi.

Lalu, kamu menyipitkan mata. Danau tujuan sudah tampak! Tak tanggung-tanggung kamu dan kawan-kawan bersorak-sorai. Kalian pun bergegas, langkah-langkah dipercepat.

Ani dan Bintang sampai ke danau lebih dahulu. Keduanya sudah sampai sebelum kamu, terus meminum air dari danau yang sungguh jernih itu. Kamu pun sampai, lantas ikut meminum air danau. Kemudian, Cantik dan Damar datang belakangan. Kalian berlima pun dapat memuaskan haus yang sedari tadi mengganggu.

Senin, 14 Februari 2022

Melawan Angin: Bagian Satu

Diangkat Angin

Berpisah lebah dari bunganya
Membangun sarang semanis tebu
Berpisah anak dari induknya
Membuka jalan hidup baharu

***

Dini hari tadi, emak sudah menutup mata. Nyawanya diangkat angin, jauh keluar rumah, entah ke mana perginya. Boleh jadi menyatu dengan angin laut, boleh jadi pula mengembara mengiringi awan-awan jauh ke kaki langit. Entah apa pun juga yang orang bilang, Langsat tetap masih termenung di samping petiduran emak.

Diam-diam, tahulah Langsat: ia sendirilah yang membunuh emak.

Sungguh ceroboh kelakuannya semalam. Kenapa Langsat membuka tingkap di larut malam? Hanya kepanasan, lagi. Terlampau remeh untuk dijadikan dalih. Lagipula, Langsat sudah diingatkan berkali-kali: tutuplah tingkap dan rapatkan kelambu setelah matahari terbenam. Bukan hanya orang tuanya yang memperingatkan, seisi kampung pun tahu.

Sudah berkali-kali pula Langsat diperingatkan: angin bukan hanya memberi. Bolehlah angin meniupkan layar-layar perahu untuk pergi mencari ikan. Bolehlah pula angin mengirimkan desiran sejuk pereda gerah. Bolehlah juga angin memberikan nyawa yang dihirup sehari-hari oleh Langsat dan oleh orang sekampung.

Namun, angin juga mengambil. Tiupan di layar perahu, sejuk yang berembus, dan nyawa yang dihirup bolehlah pergi mendadak, dan tak kan pernah kembali lagi.

Agaknya, peringatan-peringatan itu masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Langsat malah tetap membuka tingkap semaunya sendiri, hanya agar dia tak berkeringat lagi.

Bodoh betul perbuatannya itu. Angin jadi boleh memasuki rumah. Angin jadi boleh mengambil nyawa emak. Angin jadi boleh pula keluar rumah, tak menyisakan barang sekejap mata pun bagi Langsat untuk melihat dada emak yang tak lagi kembang-kempis.

Langsat merunduk bertopang lutut. Pedih hatinya. Seisi dadanya berat, dicabik-cabik nyeri.

“Lang? Nak? Mari sini.”

Langsat pun menengok. Bapak berdiri di depan petiduran, menyibak kelambu. Betul-betul serak panggilannya. Namun, bapak tetap tersenyum, biarpun kecil.

Langsat pun ikut tersenyum untuk menenangkan hati bapak. Namun demikian, sekadar tersenyum sudah menguras seluruh tenaganya. Tak mampu lagi ia bangkit dan memeluk bapak. Maka, Langsat hanya kembali meratapi petiduran yang kini, esok, dan nanti hanya akan diisi bapak seorang diri.

Dari terjadi sampai selesai, Langsatlah yang bersalah. Belakang hari nanti, harusnya ia berkenan menyerahkan diri agar dapat dikenai ganjaran yang setimpal dengan pembunuhan emaknya sendiri.

Pundak Langsat digapai tangan seseorang. Tak usah lagi ia berbalik untuk mengetahui tangan siapa. Kenal betul ia dengan hangatnya, dan dengan telapak kasarnya, buah manis mencengkeram jaring-jaring ikan di laut lepas.

Sejenak itu, Langsat teringat akan kesempatan melautnya berdua bapak. Sungguh mencengangkan, seorang perempuan ikut melaut. Namun, Langsat ialah anak sang penghulu perkampungan; lengah ketegasan bapak dalam menjunjung aturan. Teringat olehnya bau segar laut yang ditiup sepoi-sepoi, riak air yang berkelap-kelip diterangi matahari, dan kasarnya jaring ikan yang telah berkali-kali dipegang tangan bapaknya ini.

Senyum Langsat mengembang kedua kalinya. Tercapai juga keinginannya: hatinya dapat teralihkan dari kematian emak biar sekejap.

“Jangan menangis, ya,” ucap bapak. “Anak bapak tegar. Emak nanti bersedih pula, habis tahu Langsat malah menangis.”

Langsat terkekeh. Mana boleh ia menangis, sedangkan dia sendiri yang telah memperbolehkan sang angin mengambil nyawa emak?

Namun, Langsat hanya membalas, “Iya, Pak.” Tak boleh ia ungkapkan penyesalannya sendiri, apalagi ke bapaknya.

Bapak melepas tangannya dari pundak Langsat, lalu berjalan ke arah kelambu. Sambil menyibaknya, bapak berucap, “Emak dah ada di bilik pembaringan, hampir selesai dirias. Habis ini, datanglah ke sana. Bawakan air kelapa dua buah, satu untuk emak, satu untuk Langsat.”

Langsat menoleh ke arah bapak. “Bapak sendiri mau ke mana?”

“Ke balai pertemuan,” balas bapak sebelum mengesah. “Harus diperbincangkan betul-betul pengabuan emak nanti. Barangkali, bapak baru boleh ke pembaringan habis petang.”

Langsat mengangguk dalam diam. Kembali lagi ia meratapi petiduran emak, agak kecewa dengan kepergian bapak.

“Perhatikan emak baik-baik, ya, selagi bapak pergi. Akan senang, emak, dirawat anak tunggalnya sendiri,” ucap bapak. Ia pun keluar kelambu. Langkahnya berdebam menuruni tangga rumah.

Sekarang, Langsat sendirian lagi. Nantinya juga, sendirian jugalah Langsat di rumah. Bapak pergi melaut, sedang emaknya tak ada lagi di sisinya. Tidak ada lagi yang akan mengawaninya mengurai mayang, berbelanja di pekan, dan tidak ada lagi yang akan mengajarinya menghitung pasokan makanan dan lauk-pauk untuk Kampung Pesisir Barat.


***


Matahari sudah berayun dari puncaknya. Bayang-bayang pun sedikit tercondong ke arah barat, menuju lautan. Di tengah hari yang terik ini, Langsat pun memutuskan keluar rumah, hendak menuju bilik pembaringan tempat emak berada.

Orang-orang langsung menyapanya di jalan.

“Dik Langsat dari mana?”

“Aih, Dik Langsat, mau ke mana, Dik?”

“Dik Langsat tak ikut bapak ke balai?”

“Sana ke pembaringan, Dik, emak dah selesai didandani.”

Terhadap sapaan-sapaan itu, Langsat hanya mengangguk sambil tersenyum. Bukan tidak ingin hatinya melayani orang-orang yang sudah bersusah payah membantu mengurus emak dan merapikan rumah; ia hanya kecapaian merenung tadi di petiduran.

Tibalah Langsat di depan bilik pembaringan. Disebut bilik memang, lantaran kecil. Namun, sebenarnya tempat ini bangunan sendiri, terpisah dari rumah induk. Layaknya rumah-rumah lainnya, lantainya panggung, didukung tiang-tiang yang sengaja ditempatkan di bibir pantai, tempat pasir dan air bertemu. Dibandingkan rumah induk yang ditutup tingkap, bilik pembaringan hanya ditutupi layar tipis selembar, yang teramat tipis sampai-sampai yang di dalamnya tampak dari luar.

Langsat menaiki tangga ke serambi bilik, lalu berhenti tepat di depan layar jalan masuk. Ia bersembah, dan setelah melegakan dada, layar dia sibak.

Bilik sepi orang. Namun, penuh hiasan. Bunga-bungaan dirangkai rapi di sudut-sudut, dan saji-sajian memenuhi lantai, berderet-deret sepanjang dinding. Di ujung lain bilik, sajian bertumpuk di sekitaran pembaringan. Mayang kelapa menjulang di kanan-kirinya, membingkai tingkap yang hanya ditutupi layar tipis selembar. Emak terbaring telentang di atas pembaringan, kedua tangan di atas dada.

Langsat seolah ingat pemandangan ini. Tepat seakan yang dia lihat setelah membuka tingkap dan membiarkan angin masuk.

Dada emak tidak naik-turun. Tidak ada lagi nyawa dalam tubuhnya.

Setelah bersembah di sampingnya, Langsat pun duduk bersimpuh. Dia tatapi emaknya sekarang. Cantik. Rambutnya digerai. Kalung kerang-kerangan putih, kuning, sampai hijau menghiasi leher dan dadanya. Kemban putih bersih membungkus tubuhnya, yang dari pinggang ke bawah diselimuti kain putih lainnya.

Langsat tersenyum getir. Lalu, ia kembali bersembah sambil terpejam.

"Ampun, Mak … Langsat dah bersalah …."

Lima patah itu semata yang mampu Langsat ucapkan. Parau tenggorokannya. Selebihnya, ia diam tertunduk menahan tangis.

Sampai akhirnya, terdengar derap langkah menaiki tangga.

Langsat menoleh. Seseorang menyingkap layar masuk. Seorang laki-laki, sepantaran Langsat. Kain bercorak segitiga kuning-merah menyarungi pinggang dan kakinya, sedangkan di bahunya terselempang kain putih, penanda orang pintar. Sekotak sajian ada di tangannya.

“Eh, ada Langsat,” ucap orang itu.

Setelah Langsat mengelap air matanya yang tertahan, barulah jelas siapa yang sedang berjalan mendekat: Langit, anaknya Datuk Mata Elang, sang pawang dan cenayang Kampung Pesisir Barat.

Langsunglah Langsat memperbaiki rambut dan duduknya. “Mau menaruh sesaji, Lang?”

Langit duduk di samping Langsat, lalu bersembah ke emak. “Haah,” balasnya sambil meletakkan sesaji di samping pembaringan. “Harusnya aku datang lebih duluan,” ucapnya, lalu terkekeh. “Sayang, dipanggil ibu tadi, dibilang harus membantu mempersiapkan balai pertemuan dulu. Kamu tak datangkah ke sana?”

Langsat menggeleng. “Aku mau berdua emak dulu, meminta am-”

Langsung Langsat menutup mulut. Hampir ia membocorkan sendiri alasannya kemari. Jangan sampai siapa pun tahu, termasuk Langit, biarpun dia kawan dekatnya. Namun, Langsat baru teringat: Langit, layaknya ibunya, juga seorang cenayang. Melihat isi hati seseorang bukanlah sulit baginya.

Takut-takut Langsat bertatap mata dengan Langit. Namun, tahunya Langit hanya diam meratapi emak, tidak lebih. Tak tampak keraguan di tampangnya. Barulah Langsat lega.

“Meminta ampun kenapa?”

Jantung Langsat berhenti berdetak. “Eh, em, anu …”

Sial! Isi hatinya sudah dilihat!

Langit malah tertawa. “Tak usah dibalas sekarang,” ucapnya. “Habis ini, aku mau ke rumah, menyiapkan sajian asap. Harus dibuat lebih banyak pekan ini.”

“Aih? Kenapa lebih banyak?”

“Sebulan-dua bulan lagi, kan, Sangyang Barat datang, penghujan juga datang. Makanya sajian yang dipersembahkan harus dua kali lipat.”

Langsat mengangguk-angguk. Baru teringat Langsat, tak lama lagi, kemarau akan berganti.

Langit pun berdiri. “Habis itu, aku mau ke balai pertemuan. Ibu menyuruh membuatkan air kelapa beberapa buah untuk orang-orang di sana. Mau ikut, tak?”

Langsat baru teringat disuruh bapak membawa air kelapa ke bilik pembaringan. “Eh, ah, aku ikut, aku ikut. Tunggu sebentar dulu ya, aku mau membuat air kelapa dulu untuk emak,” ucapnya sebelum beranjak.

“Lah, sekalianlah berdua aku. Sambil menyelam minum air, kan? Aku membuatkan kelapa untuk orang di balai pertemuan, kamu membuatkan kelapa untuk emak. Nanti habis sudah, tinggal susul langsung ke balai.”

Terbengong-bengong sebentar Langsat. Terbayang olehnya memotong-motong kelapa berdua Langit. Lalu, tersadar dari lamunannya, Langsat mengangguk. “Boleh, boleh.”

Keduanya pun bersembah sekali lagi ke emak, lalu keluar bilik pembaringan menuju rumah Langit.


Aku Tak Bisa Mengerti

Mari kita bertukar nama; aku menjadi kamu, kamu menjadi aku. Kamu pun membuka mata. Di seberang jendéla, sang bulan telah terbit. Untungny...