Jumat, 11 Maret 2022

“Waktu” dalam Cakap Melayu: Bagian Kedua

— o — Bagian Kedua — o —

Landasan

— o — o — o —

Suatu hari, aku disuguhkan postingan unik di grup kepenulisan di Facebook. Isinya meminta ulasan anggota grup soal buku yang jadi buah bibir kalangan sejarawan amatir dan umat goyah iman: Sejarah Dunia yang Disembunyikan (The Secret History of the World) karya Jonathan Black.

Sehabis berkali-kali mendapat kontén tentang buku tersebut, akhirnya aku mengalah dan mulai mencari PDF-nya, atau seenggaknya pratinjaunya. Berkat bantuan suatu situs yang teramat sangat membantu, aku pun kesampaian juga melayangkan pandanganku membaca bab pertamanya.

Aku pun termenung.

Bukan, bukan soal ketuhanan. Bukan juga soal penjelasannya akan penciptaan dunia. Bukan pula soal pemikirannya tentang manusia ialah cerminan Tuhan.

Aku termenung karena penjelasannya soal waktu:

“Waktu hanyalah ukuran untuk perubahan posisi benda-benda di alam raya ….”

Selama ini, aku kebingungan menjelaskan “waktu” itu apa. Di benakku, terlampau abstrak konsép “waktu" itu. Namun, habis membaca klausa itu, aku seolah tercerahkan. Terang juga akhirnya maksudnya “waktu”.

Namun, tunggu dulu. Jangan cuma dari satu sumber aku mengambil pengertiannya. Karena aku penutur bahasa Indonésia, Yang Mulia KBBI sudah tentu jadi rujukan utama. Menurutnya, “waktu” ialah:

“Seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan, atau keadaan berada atau berlangsung.”

Jadi, tampaknya yang kita artikan sebagai “waktu” ternyata sekadar urutan. Urutan kejadian yang sudah berlangsung, yang tengah berlangsung, dan yang akan berlangsung.

Lantas, kalau “waktu” sejatinya sesimpel “urutan”, kenapa bahasa Indomelayu aslinya tak mempunyai kata khusus untuk konsép satu ini? Bandingkan dengan bahasa-bahasa asal kata-kata serapan Indomelayu:

• “Waktu”, dari وقت (waqt) bahasa Arab;

• “Masa”, dari मास (māsa) bahasa Sansekerta;

• “Périod(e)”, dari periode bahasa Belanda dan period bahasa Inggris;

• Dll.

Sementara itu, bahasa Indomelayu sendiri tidak punya apa-apa yang persis. Paling tidak, ada kata-kata berikut:

• Hari

• Pekan

• Bulan

• Tahun

Dari sinilah aku kemudian sadar: “waktu” tidak mencakup “urutan” semata, tapi juga perulangan. Hari diulang berdasarkan kedatangan matahari, bulan diulang berdasarkan perubahan bulan, dan tahun diulang berdasarkan kedatangan musim. Kedua konsép ini—urutan dan perulangan—dicakup dalam satu kata kecil, yang sayangnya tidak dimiliki bahasa Indomelayu dari sananya.

Jadi, apa yang dimiliki bahasa Indomelayu?

Jawabannya ternyata sungguh sederhana. Boléh jadi karena sudah kita pahami selayang pandang, boléh jadi pula karena Pembaca Sekalian sudah membaca dongéng di bagian kesatu—kata-kata tertentu ditebalkan dan digarisbawahi bukan tidak ada alasan, lo!

Maka, mari kita uraikan kebahasaan Indomelayu dalam mengungkapkan waktu di bagian ketiga :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aku Tak Bisa Mengerti

Mari kita bertukar nama; aku menjadi kamu, kamu menjadi aku. Kamu pun membuka mata. Di seberang jendéla, sang bulan telah terbit. Untungny...