Tampilkan postingan dengan label Angin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Angin. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Februari 2022

Melawan Angin: Bagian Satu

Diangkat Angin

Berpisah lebah dari bunganya
Membangun sarang semanis tebu
Berpisah anak dari induknya
Membuka jalan hidup baharu

***

Dini hari tadi, emak sudah menutup mata. Nyawanya diangkat angin, jauh keluar rumah, entah ke mana perginya. Boleh jadi menyatu dengan angin laut, boleh jadi pula mengembara mengiringi awan-awan jauh ke kaki langit. Entah apa pun juga yang orang bilang, Langsat tetap masih termenung di samping petiduran emak.

Diam-diam, tahulah Langsat: ia sendirilah yang membunuh emak.

Sungguh ceroboh kelakuannya semalam. Kenapa Langsat membuka tingkap di larut malam? Hanya kepanasan, lagi. Terlampau remeh untuk dijadikan dalih. Lagipula, Langsat sudah diingatkan berkali-kali: tutuplah tingkap dan rapatkan kelambu setelah matahari terbenam. Bukan hanya orang tuanya yang memperingatkan, seisi kampung pun tahu.

Sudah berkali-kali pula Langsat diperingatkan: angin bukan hanya memberi. Bolehlah angin meniupkan layar-layar perahu untuk pergi mencari ikan. Bolehlah pula angin mengirimkan desiran sejuk pereda gerah. Bolehlah juga angin memberikan nyawa yang dihirup sehari-hari oleh Langsat dan oleh orang sekampung.

Namun, angin juga mengambil. Tiupan di layar perahu, sejuk yang berembus, dan nyawa yang dihirup bolehlah pergi mendadak, dan tak kan pernah kembali lagi.

Agaknya, peringatan-peringatan itu masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Langsat malah tetap membuka tingkap semaunya sendiri, hanya agar dia tak berkeringat lagi.

Bodoh betul perbuatannya itu. Angin jadi boleh memasuki rumah. Angin jadi boleh mengambil nyawa emak. Angin jadi boleh pula keluar rumah, tak menyisakan barang sekejap mata pun bagi Langsat untuk melihat dada emak yang tak lagi kembang-kempis.

Langsat merunduk bertopang lutut. Pedih hatinya. Seisi dadanya berat, dicabik-cabik nyeri.

“Lang? Nak? Mari sini.”

Langsat pun menengok. Bapak berdiri di depan petiduran, menyibak kelambu. Betul-betul serak panggilannya. Namun, bapak tetap tersenyum, biarpun kecil.

Langsat pun ikut tersenyum untuk menenangkan hati bapak. Namun demikian, sekadar tersenyum sudah menguras seluruh tenaganya. Tak mampu lagi ia bangkit dan memeluk bapak. Maka, Langsat hanya kembali meratapi petiduran yang kini, esok, dan nanti hanya akan diisi bapak seorang diri.

Dari terjadi sampai selesai, Langsatlah yang bersalah. Belakang hari nanti, harusnya ia berkenan menyerahkan diri agar dapat dikenai ganjaran yang setimpal dengan pembunuhan emaknya sendiri.

Pundak Langsat digapai tangan seseorang. Tak usah lagi ia berbalik untuk mengetahui tangan siapa. Kenal betul ia dengan hangatnya, dan dengan telapak kasarnya, buah manis mencengkeram jaring-jaring ikan di laut lepas.

Sejenak itu, Langsat teringat akan kesempatan melautnya berdua bapak. Sungguh mencengangkan, seorang perempuan ikut melaut. Namun, Langsat ialah anak sang penghulu perkampungan; lengah ketegasan bapak dalam menjunjung aturan. Teringat olehnya bau segar laut yang ditiup sepoi-sepoi, riak air yang berkelap-kelip diterangi matahari, dan kasarnya jaring ikan yang telah berkali-kali dipegang tangan bapaknya ini.

Senyum Langsat mengembang kedua kalinya. Tercapai juga keinginannya: hatinya dapat teralihkan dari kematian emak biar sekejap.

“Jangan menangis, ya,” ucap bapak. “Anak bapak tegar. Emak nanti bersedih pula, habis tahu Langsat malah menangis.”

Langsat terkekeh. Mana boleh ia menangis, sedangkan dia sendiri yang telah memperbolehkan sang angin mengambil nyawa emak?

Namun, Langsat hanya membalas, “Iya, Pak.” Tak boleh ia ungkapkan penyesalannya sendiri, apalagi ke bapaknya.

Bapak melepas tangannya dari pundak Langsat, lalu berjalan ke arah kelambu. Sambil menyibaknya, bapak berucap, “Emak dah ada di bilik pembaringan, hampir selesai dirias. Habis ini, datanglah ke sana. Bawakan air kelapa dua buah, satu untuk emak, satu untuk Langsat.”

Langsat menoleh ke arah bapak. “Bapak sendiri mau ke mana?”

“Ke balai pertemuan,” balas bapak sebelum mengesah. “Harus diperbincangkan betul-betul pengabuan emak nanti. Barangkali, bapak baru boleh ke pembaringan habis petang.”

Langsat mengangguk dalam diam. Kembali lagi ia meratapi petiduran emak, agak kecewa dengan kepergian bapak.

“Perhatikan emak baik-baik, ya, selagi bapak pergi. Akan senang, emak, dirawat anak tunggalnya sendiri,” ucap bapak. Ia pun keluar kelambu. Langkahnya berdebam menuruni tangga rumah.

Sekarang, Langsat sendirian lagi. Nantinya juga, sendirian jugalah Langsat di rumah. Bapak pergi melaut, sedang emaknya tak ada lagi di sisinya. Tidak ada lagi yang akan mengawaninya mengurai mayang, berbelanja di pekan, dan tidak ada lagi yang akan mengajarinya menghitung pasokan makanan dan lauk-pauk untuk Kampung Pesisir Barat.


***


Matahari sudah berayun dari puncaknya. Bayang-bayang pun sedikit tercondong ke arah barat, menuju lautan. Di tengah hari yang terik ini, Langsat pun memutuskan keluar rumah, hendak menuju bilik pembaringan tempat emak berada.

Orang-orang langsung menyapanya di jalan.

“Dik Langsat dari mana?”

“Aih, Dik Langsat, mau ke mana, Dik?”

“Dik Langsat tak ikut bapak ke balai?”

“Sana ke pembaringan, Dik, emak dah selesai didandani.”

Terhadap sapaan-sapaan itu, Langsat hanya mengangguk sambil tersenyum. Bukan tidak ingin hatinya melayani orang-orang yang sudah bersusah payah membantu mengurus emak dan merapikan rumah; ia hanya kecapaian merenung tadi di petiduran.

Tibalah Langsat di depan bilik pembaringan. Disebut bilik memang, lantaran kecil. Namun, sebenarnya tempat ini bangunan sendiri, terpisah dari rumah induk. Layaknya rumah-rumah lainnya, lantainya panggung, didukung tiang-tiang yang sengaja ditempatkan di bibir pantai, tempat pasir dan air bertemu. Dibandingkan rumah induk yang ditutup tingkap, bilik pembaringan hanya ditutupi layar tipis selembar, yang teramat tipis sampai-sampai yang di dalamnya tampak dari luar.

Langsat menaiki tangga ke serambi bilik, lalu berhenti tepat di depan layar jalan masuk. Ia bersembah, dan setelah melegakan dada, layar dia sibak.

Bilik sepi orang. Namun, penuh hiasan. Bunga-bungaan dirangkai rapi di sudut-sudut, dan saji-sajian memenuhi lantai, berderet-deret sepanjang dinding. Di ujung lain bilik, sajian bertumpuk di sekitaran pembaringan. Mayang kelapa menjulang di kanan-kirinya, membingkai tingkap yang hanya ditutupi layar tipis selembar. Emak terbaring telentang di atas pembaringan, kedua tangan di atas dada.

Langsat seolah ingat pemandangan ini. Tepat seakan yang dia lihat setelah membuka tingkap dan membiarkan angin masuk.

Dada emak tidak naik-turun. Tidak ada lagi nyawa dalam tubuhnya.

Setelah bersembah di sampingnya, Langsat pun duduk bersimpuh. Dia tatapi emaknya sekarang. Cantik. Rambutnya digerai. Kalung kerang-kerangan putih, kuning, sampai hijau menghiasi leher dan dadanya. Kemban putih bersih membungkus tubuhnya, yang dari pinggang ke bawah diselimuti kain putih lainnya.

Langsat tersenyum getir. Lalu, ia kembali bersembah sambil terpejam.

"Ampun, Mak … Langsat dah bersalah …."

Lima patah itu semata yang mampu Langsat ucapkan. Parau tenggorokannya. Selebihnya, ia diam tertunduk menahan tangis.

Sampai akhirnya, terdengar derap langkah menaiki tangga.

Langsat menoleh. Seseorang menyingkap layar masuk. Seorang laki-laki, sepantaran Langsat. Kain bercorak segitiga kuning-merah menyarungi pinggang dan kakinya, sedangkan di bahunya terselempang kain putih, penanda orang pintar. Sekotak sajian ada di tangannya.

“Eh, ada Langsat,” ucap orang itu.

Setelah Langsat mengelap air matanya yang tertahan, barulah jelas siapa yang sedang berjalan mendekat: Langit, anaknya Datuk Mata Elang, sang pawang dan cenayang Kampung Pesisir Barat.

Langsunglah Langsat memperbaiki rambut dan duduknya. “Mau menaruh sesaji, Lang?”

Langit duduk di samping Langsat, lalu bersembah ke emak. “Haah,” balasnya sambil meletakkan sesaji di samping pembaringan. “Harusnya aku datang lebih duluan,” ucapnya, lalu terkekeh. “Sayang, dipanggil ibu tadi, dibilang harus membantu mempersiapkan balai pertemuan dulu. Kamu tak datangkah ke sana?”

Langsat menggeleng. “Aku mau berdua emak dulu, meminta am-”

Langsung Langsat menutup mulut. Hampir ia membocorkan sendiri alasannya kemari. Jangan sampai siapa pun tahu, termasuk Langit, biarpun dia kawan dekatnya. Namun, Langsat baru teringat: Langit, layaknya ibunya, juga seorang cenayang. Melihat isi hati seseorang bukanlah sulit baginya.

Takut-takut Langsat bertatap mata dengan Langit. Namun, tahunya Langit hanya diam meratapi emak, tidak lebih. Tak tampak keraguan di tampangnya. Barulah Langsat lega.

“Meminta ampun kenapa?”

Jantung Langsat berhenti berdetak. “Eh, em, anu …”

Sial! Isi hatinya sudah dilihat!

Langit malah tertawa. “Tak usah dibalas sekarang,” ucapnya. “Habis ini, aku mau ke rumah, menyiapkan sajian asap. Harus dibuat lebih banyak pekan ini.”

“Aih? Kenapa lebih banyak?”

“Sebulan-dua bulan lagi, kan, Sangyang Barat datang, penghujan juga datang. Makanya sajian yang dipersembahkan harus dua kali lipat.”

Langsat mengangguk-angguk. Baru teringat Langsat, tak lama lagi, kemarau akan berganti.

Langit pun berdiri. “Habis itu, aku mau ke balai pertemuan. Ibu menyuruh membuatkan air kelapa beberapa buah untuk orang-orang di sana. Mau ikut, tak?”

Langsat baru teringat disuruh bapak membawa air kelapa ke bilik pembaringan. “Eh, ah, aku ikut, aku ikut. Tunggu sebentar dulu ya, aku mau membuat air kelapa dulu untuk emak,” ucapnya sebelum beranjak.

“Lah, sekalianlah berdua aku. Sambil menyelam minum air, kan? Aku membuatkan kelapa untuk orang di balai pertemuan, kamu membuatkan kelapa untuk emak. Nanti habis sudah, tinggal susul langsung ke balai.”

Terbengong-bengong sebentar Langsat. Terbayang olehnya memotong-motong kelapa berdua Langit. Lalu, tersadar dari lamunannya, Langsat mengangguk. “Boleh, boleh.”

Keduanya pun bersembah sekali lagi ke emak, lalu keluar bilik pembaringan menuju rumah Langit.


Aku Tak Bisa Mengerti

Mari kita bertukar nama; aku menjadi kamu, kamu menjadi aku. Kamu pun membuka mata. Di seberang jendéla, sang bulan telah terbit. Untungny...