Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Agustus 2022

Aku Tak Bisa Mengerti

Mari kita bertukar nama; aku menjadi kamu, kamu menjadi aku.

Kamu pun membuka mata. Di seberang jendéla, sang bulan telah terbit. Untungnya, bergumpal-gumpal bintang menutupi terik lembutnya, sehingga dinginnya tidak terlampau panas menyengat kulit. Begitu bangun, tempat tidur kamu tinggalkan begitu saja. Biarlah dia merapikan dirinya sendiri saat nanti kamu kembali untuk memekarkan bunga-bunga mimpi.

Terlintas di matamu sebuah bingkai foto di atas méja saat sedang berjalan ke dapur. Buram, tak terlalu jelas kedua sosok yang ada di lembaran fotonya. Namun, kamu masih mengetahui betul salah satunya adalah aku. Entah siapa satu orangnya lagi. Biarpun bingung, tak boleh berlama-lama kamu menatapinya; perutmu sudah rata, lelah berkeroncong meminta pasokan makanan.

Seperti biasa, hari ini kamu hendak menyarap sepiring mi. Sebungkus mi goreng pun kamu rebus dalam pembakaran. Asap yang mengepul meniupkan hawa sejuk ke seluruh tubuhmu, membuatmu menggigil di hadapan kobaran api. Setelah mi tercerai-berai, kamu pun menuangkannya ke atas piring.

Seséndok mi kamu suapkan ke dalam mulut. Bumbu bubuknya, kécapnya, sambalnya, minyaknya—semua bersatu padu, menciptakan cita rasa hambar tawar yang sangat menggoyang lidah. Lama-lama, mi yang terhidang lezat di atas piring berubah menjadi seonggok barang kuning kecokelatan yang tak memikat seléra.

Habislah peralatan makan dicuci sampai gosong, kamu pun kembali menuju kamar. Ternyata, tempat tidurmu masih berantakan, kusut musut di sana-sini. Masa bodoh; kamu tetap membaringkan diri di atas kasur, lamat-lamat meratapi rembulan yang terus bersinar di balik jendéla.

Lalu, tanpa aba-aba, kamu pun berdiri, meninggalkan kamar, meninggalkan rumah, berjalan menuju pelataran. Duduklah dirimu di samping sebatang pohon tempat bulan bersarang empuk, yang cabang-cabangnya menghadapi arah matahari terbenam di sebelah timur. Di sini, kamu tidak sendirian; rerumputan bergoyang menemani, dedaunan bekersik menemani, tapi tidak ada diriku di sini.

Mataku mendadak dingin. Linangan air mata jatuh mengairi pipi.

Ah, ya Tuhan, kenapa begini? Kenapa harus begini?

Mari usaikan semua ini, tukarkan kembali nama kita berdua; aku menjadi aku, kamu menjadi kamu.

Aku pun membuka mata. Di seberang sana, bulan dan bintang hanya berdiam diri memancarkan sinar redupnya. Bahkan angin yang bertiup sedemikian kencang pun tidak mampu berbuat apa-apa. Tidak ada pula teriakan yang datang dari cabang-cabang pohon saat kamu memutuskan mengikat simpul pada salah satunya.

Kenapa? Kenapa harus begini?

Sekuat apa pun kutempatkan diriku pada dirimu, seniat apa pun kuposisikan diriku menjadi dirimu, aku tak bisa mengerti.

Aku tetap tidak bisa mengerti.

Aku tak bisa mengerti alasanmu tidak memberitahuku. Aku tak bisa mengerti alasanmu meninggalkanku. Aku tak bisa mengerti alasanmu menyatu dengan bintang-bintang. Aku tak bisa mengerti alasanmu berayun lemah ditiup angin malam. Aku tak bisa mengerti alasanmu tergantung lunglai di batang pohon ini.

Aku tak bisa mengerti alasanku tak menemanimu malam itu.

Aku tak bisa mengerti alasanmu tak bisa kembali.


Minggu, 10 April 2022

Bertarik Urat

Duduk di sini menenangkan, ya, tahu-tahunya. Biarpun kasar dan tunggang-tunggit, sudah kutemukan bagian yang nyaman kududuki. Selain itu, sinar mentari tidak menyengat di sini. Aku pun meraba-raba samping kiri dan kanan. Tanganku mendapati sesuatu yang besar lagi kasar, dan agaknya tinggi. Kemudian, anak angin bertiup. Kudengar gemeresik dari atas sana. Tentulah ini sebatang pohon, pantas tempat ini teduh benar.

"Aih, Ri! Di sini, tahunya."

Langsung kukenali panggilan itu. "Mencariku, ya, Lang?"

Rumput berderis-deris mengiringi derap langkah yang kian mendekat. "Dah kucari ke ceruk-meruk kampung, malah duduk di batu."

Aku pun tergelak. "Batu, ya, ini? Pantas kasar."

"Haah," balas Alang. Ia pun terdiam agak lama sebelum berucap, "Sampai bantaran sungai, lagi. Bingung aku, macam mana boléh engkau berjalan ke sini. Tongkat kau itu mana? Dari tadi tak kulihat-lihat."

"Ah, iya, tak kubawa tongkatku," ucapku tersadar. "Dari tadi aku hanya berjalan-jalan, lah, menendang-nendang sama menggapai-gapai biar tahu ada-tidaknya penghalang, héhé."

Alang berdecak-decak. Tentulah ia sedang menggéleng menahan tawa. "Bilang, lah, mau pergi-pergi. Ketakutan aku tadi habis sadar kau hilang." Ia pun pelan-pelan menarik tangan kananku. "Yuk, ah, pulang. Nanti emak-bapak kau ikut-ikutan kalang-kabut habis sadar juga."

Tersenyumlah aku. "Terima kasih, ya, Lang," ucapku sebelum tanganku kutarik balik. "Sayangnya, aku masih mau duduk-duduk di sini. Di sini, kan, sudah tenang, teduh pula."

Alang mengaduh panjang. "Itu, lah, bertarik urat terus kelakuan kau ini. Nanti kenapa-napa macam mana? Jangan sampai engkau malah tersesat terus terluka, Ri, Ri."

"Ah," aku pun berceletuk sambil terus tersenyum, "bilanglah engkau ini perhatian, Lang, sampai-sampai takut aku terluka."

Kembalilah Alang berdecak. "Metari," panggilnya agak panjang, "pulang, sini."

Tawaku tak mampu kutahan lagi. Biarpun tak mampu kulihat, aku tahu benar Alang tengah dimakan malu, lantaran tak berucap apa-apa sedari tadi.

Tiba-tiba, tebersit sebuah gagasan di hatiku. "Oi, Lang. Ketimbang aku yang pulang, cobalah engkau yang duduk juga di sini," ajakku sembari menepuk-nepuk bagian batu di sebelahku.

Agak lama kutunggu balasannya. Namun, bukannya ditolak, aku malah mendapati tanganku diangkat, lalu diletakkan di atas pahanya. Digenggam-genggam pula tanganku ini; langsunglah aku terkelu lidah, malu mau mengucapkan apa-apa.

"Jujur," ucap Alang memecah hening, "aku agak bingung mau menanggapi bersikeras kau itu macam mana. Kemarin-kemarin engkau menari-nari di tengah kampung, terus bésoknya engkau main sorok-sorok dan bersembunyi entah di mana, bésoknya lagi engkau hampir jatuh ke sungai, tepat sungai depan kita ini …."

Aku hanya dapat tercenung mendengarkan pengaduannya ini. Lantas, bertanya-tanyalah aku dalam hati: semenyusahkan itukah aku? Sudah buta, sering berulah lagi.

"Bukan aku seorang yang takut kau kenapa-napa, Ri; orang tua kau pun takut."

"Héhé," ucapku. "Ampun, ya, aku malah sering berulah macam ini. Sekiranya tak buta, boléh jadi aku tak menyusahkan orang-orang."

Di luar perkiraanku, Alang malah tertawa. "Namun, ya, malah itulah yang kusenangi. Berkali-kali engkau membuat kita orang takut, berkali-kali pula engkau menunjukkan kau tak kenapa-napa. Hari ini juga, kan; aku lagi sibuk menangani rumah asuhan, engkau berkelana ke sini, tetap tak kenapa-napa juga.

Aku juga minta ampun, lalai dengan kau. Lupa aku, harus mengawani kau juga, bukan hanya anak-anak yang lain."

Terkunci rapat sudah kedua bibirku. Ah, malu benar hatiku ini! Seperhatian itu, sesayang itu orang di sampingku ini.

Sejenak, kami berdua bergeming. Gemeresik dari atas kembali mengisi hening, diiringi gemericik yang datang dari arah hadapan.

Barulah terbayang yang harus kuucapkan untuk menyambung percakapan. "Jadi, boléh, lah, aku pergi-pergi lagi, selama tak kenapa-napa?"

Alang pun terkékéh. "Terserah, lah. Namun, janji dulu, engkau harus bilang sebelum pergi. Jadinya, habis ingin dicari, aku dah tahu kau ada di mana."

Aku mengangguk-ngangguk. "Iya, iya, janji."

Kami pun kembali terdiam sebelum Alang belakangan berdiri. Namun, tanganku masih ada dalam genggamannya. "Dah, yuk, pulang. Jangan-jangan anak-anak rumah asuhan dah mencari-cariku, aku malah berduaan dengan kau di sini."

Senyumku kembali datang, lalu aku berdengung. "Macam apa, ya, jadinya, habis kubilang Alang berduaan dengan Metari di pinggir sungai? Anak-anak tentulah tak ada yang tak senang."

"Aih, udah, udah! Yuk, pulang!" serunya. Kali ini, tak pakai menunggu-nunggu lagi, Alang menarik tanganku. "Sini, biar kutuntun. Takutnya, ada apa-apa di jalan. Mana tongkat kau tak dibawa, lagi."

Aku menahan tawa, mau tak mau mengikuti perintahnya. Berdua, kami menyusuri gemericik air, meninggalkan kersik di atas batu yang kini kian menjauh.

Aku Tak Bisa Mengerti

Mari kita bertukar nama; aku menjadi kamu, kamu menjadi aku. Kamu pun membuka mata. Di seberang jendéla, sang bulan telah terbit. Untungny...