Tampilkan postingan dengan label Menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Menulis. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Agustus 2022

Aku Tak Bisa Mengerti

Mari kita bertukar nama; aku menjadi kamu, kamu menjadi aku.

Kamu pun membuka mata. Di seberang jendéla, sang bulan telah terbit. Untungnya, bergumpal-gumpal bintang menutupi terik lembutnya, sehingga dinginnya tidak terlampau panas menyengat kulit. Begitu bangun, tempat tidur kamu tinggalkan begitu saja. Biarlah dia merapikan dirinya sendiri saat nanti kamu kembali untuk memekarkan bunga-bunga mimpi.

Terlintas di matamu sebuah bingkai foto di atas méja saat sedang berjalan ke dapur. Buram, tak terlalu jelas kedua sosok yang ada di lembaran fotonya. Namun, kamu masih mengetahui betul salah satunya adalah aku. Entah siapa satu orangnya lagi. Biarpun bingung, tak boleh berlama-lama kamu menatapinya; perutmu sudah rata, lelah berkeroncong meminta pasokan makanan.

Seperti biasa, hari ini kamu hendak menyarap sepiring mi. Sebungkus mi goreng pun kamu rebus dalam pembakaran. Asap yang mengepul meniupkan hawa sejuk ke seluruh tubuhmu, membuatmu menggigil di hadapan kobaran api. Setelah mi tercerai-berai, kamu pun menuangkannya ke atas piring.

Seséndok mi kamu suapkan ke dalam mulut. Bumbu bubuknya, kécapnya, sambalnya, minyaknya—semua bersatu padu, menciptakan cita rasa hambar tawar yang sangat menggoyang lidah. Lama-lama, mi yang terhidang lezat di atas piring berubah menjadi seonggok barang kuning kecokelatan yang tak memikat seléra.

Habislah peralatan makan dicuci sampai gosong, kamu pun kembali menuju kamar. Ternyata, tempat tidurmu masih berantakan, kusut musut di sana-sini. Masa bodoh; kamu tetap membaringkan diri di atas kasur, lamat-lamat meratapi rembulan yang terus bersinar di balik jendéla.

Lalu, tanpa aba-aba, kamu pun berdiri, meninggalkan kamar, meninggalkan rumah, berjalan menuju pelataran. Duduklah dirimu di samping sebatang pohon tempat bulan bersarang empuk, yang cabang-cabangnya menghadapi arah matahari terbenam di sebelah timur. Di sini, kamu tidak sendirian; rerumputan bergoyang menemani, dedaunan bekersik menemani, tapi tidak ada diriku di sini.

Mataku mendadak dingin. Linangan air mata jatuh mengairi pipi.

Ah, ya Tuhan, kenapa begini? Kenapa harus begini?

Mari usaikan semua ini, tukarkan kembali nama kita berdua; aku menjadi aku, kamu menjadi kamu.

Aku pun membuka mata. Di seberang sana, bulan dan bintang hanya berdiam diri memancarkan sinar redupnya. Bahkan angin yang bertiup sedemikian kencang pun tidak mampu berbuat apa-apa. Tidak ada pula teriakan yang datang dari cabang-cabang pohon saat kamu memutuskan mengikat simpul pada salah satunya.

Kenapa? Kenapa harus begini?

Sekuat apa pun kutempatkan diriku pada dirimu, seniat apa pun kuposisikan diriku menjadi dirimu, aku tak bisa mengerti.

Aku tetap tidak bisa mengerti.

Aku tak bisa mengerti alasanmu tidak memberitahuku. Aku tak bisa mengerti alasanmu meninggalkanku. Aku tak bisa mengerti alasanmu menyatu dengan bintang-bintang. Aku tak bisa mengerti alasanmu berayun lemah ditiup angin malam. Aku tak bisa mengerti alasanmu tergantung lunglai di batang pohon ini.

Aku tak bisa mengerti alasanku tak menemanimu malam itu.

Aku tak bisa mengerti alasanmu tak bisa kembali.


Minggu, 10 April 2022

Bertarik Urat

Duduk di sini menenangkan, ya, tahu-tahunya. Biarpun kasar dan tunggang-tunggit, sudah kutemukan bagian yang nyaman kududuki. Selain itu, sinar mentari tidak menyengat di sini. Aku pun meraba-raba samping kiri dan kanan. Tanganku mendapati sesuatu yang besar lagi kasar, dan agaknya tinggi. Kemudian, anak angin bertiup. Kudengar gemeresik dari atas sana. Tentulah ini sebatang pohon, pantas tempat ini teduh benar.

"Aih, Ri! Di sini, tahunya."

Langsung kukenali panggilan itu. "Mencariku, ya, Lang?"

Rumput berderis-deris mengiringi derap langkah yang kian mendekat. "Dah kucari ke ceruk-meruk kampung, malah duduk di batu."

Aku pun tergelak. "Batu, ya, ini? Pantas kasar."

"Haah," balas Alang. Ia pun terdiam agak lama sebelum berucap, "Sampai bantaran sungai, lagi. Bingung aku, macam mana boléh engkau berjalan ke sini. Tongkat kau itu mana? Dari tadi tak kulihat-lihat."

"Ah, iya, tak kubawa tongkatku," ucapku tersadar. "Dari tadi aku hanya berjalan-jalan, lah, menendang-nendang sama menggapai-gapai biar tahu ada-tidaknya penghalang, héhé."

Alang berdecak-decak. Tentulah ia sedang menggéleng menahan tawa. "Bilang, lah, mau pergi-pergi. Ketakutan aku tadi habis sadar kau hilang." Ia pun pelan-pelan menarik tangan kananku. "Yuk, ah, pulang. Nanti emak-bapak kau ikut-ikutan kalang-kabut habis sadar juga."

Tersenyumlah aku. "Terima kasih, ya, Lang," ucapku sebelum tanganku kutarik balik. "Sayangnya, aku masih mau duduk-duduk di sini. Di sini, kan, sudah tenang, teduh pula."

Alang mengaduh panjang. "Itu, lah, bertarik urat terus kelakuan kau ini. Nanti kenapa-napa macam mana? Jangan sampai engkau malah tersesat terus terluka, Ri, Ri."

"Ah," aku pun berceletuk sambil terus tersenyum, "bilanglah engkau ini perhatian, Lang, sampai-sampai takut aku terluka."

Kembalilah Alang berdecak. "Metari," panggilnya agak panjang, "pulang, sini."

Tawaku tak mampu kutahan lagi. Biarpun tak mampu kulihat, aku tahu benar Alang tengah dimakan malu, lantaran tak berucap apa-apa sedari tadi.

Tiba-tiba, tebersit sebuah gagasan di hatiku. "Oi, Lang. Ketimbang aku yang pulang, cobalah engkau yang duduk juga di sini," ajakku sembari menepuk-nepuk bagian batu di sebelahku.

Agak lama kutunggu balasannya. Namun, bukannya ditolak, aku malah mendapati tanganku diangkat, lalu diletakkan di atas pahanya. Digenggam-genggam pula tanganku ini; langsunglah aku terkelu lidah, malu mau mengucapkan apa-apa.

"Jujur," ucap Alang memecah hening, "aku agak bingung mau menanggapi bersikeras kau itu macam mana. Kemarin-kemarin engkau menari-nari di tengah kampung, terus bésoknya engkau main sorok-sorok dan bersembunyi entah di mana, bésoknya lagi engkau hampir jatuh ke sungai, tepat sungai depan kita ini …."

Aku hanya dapat tercenung mendengarkan pengaduannya ini. Lantas, bertanya-tanyalah aku dalam hati: semenyusahkan itukah aku? Sudah buta, sering berulah lagi.

"Bukan aku seorang yang takut kau kenapa-napa, Ri; orang tua kau pun takut."

"Héhé," ucapku. "Ampun, ya, aku malah sering berulah macam ini. Sekiranya tak buta, boléh jadi aku tak menyusahkan orang-orang."

Di luar perkiraanku, Alang malah tertawa. "Namun, ya, malah itulah yang kusenangi. Berkali-kali engkau membuat kita orang takut, berkali-kali pula engkau menunjukkan kau tak kenapa-napa. Hari ini juga, kan; aku lagi sibuk menangani rumah asuhan, engkau berkelana ke sini, tetap tak kenapa-napa juga.

Aku juga minta ampun, lalai dengan kau. Lupa aku, harus mengawani kau juga, bukan hanya anak-anak yang lain."

Terkunci rapat sudah kedua bibirku. Ah, malu benar hatiku ini! Seperhatian itu, sesayang itu orang di sampingku ini.

Sejenak, kami berdua bergeming. Gemeresik dari atas kembali mengisi hening, diiringi gemericik yang datang dari arah hadapan.

Barulah terbayang yang harus kuucapkan untuk menyambung percakapan. "Jadi, boléh, lah, aku pergi-pergi lagi, selama tak kenapa-napa?"

Alang pun terkékéh. "Terserah, lah. Namun, janji dulu, engkau harus bilang sebelum pergi. Jadinya, habis ingin dicari, aku dah tahu kau ada di mana."

Aku mengangguk-ngangguk. "Iya, iya, janji."

Kami pun kembali terdiam sebelum Alang belakangan berdiri. Namun, tanganku masih ada dalam genggamannya. "Dah, yuk, pulang. Jangan-jangan anak-anak rumah asuhan dah mencari-cariku, aku malah berduaan dengan kau di sini."

Senyumku kembali datang, lalu aku berdengung. "Macam apa, ya, jadinya, habis kubilang Alang berduaan dengan Metari di pinggir sungai? Anak-anak tentulah tak ada yang tak senang."

"Aih, udah, udah! Yuk, pulang!" serunya. Kali ini, tak pakai menunggu-nunggu lagi, Alang menarik tanganku. "Sini, biar kutuntun. Takutnya, ada apa-apa di jalan. Mana tongkat kau tak dibawa, lagi."

Aku menahan tawa, mau tak mau mengikuti perintahnya. Berdua, kami menyusuri gemericik air, meninggalkan kersik di atas batu yang kini kian menjauh.

Senin, 14 Februari 2022

Melawan Angin: Bagian Satu

Diangkat Angin

Berpisah lebah dari bunganya
Membangun sarang semanis tebu
Berpisah anak dari induknya
Membuka jalan hidup baharu

***

Dini hari tadi, emak sudah menutup mata. Nyawanya diangkat angin, jauh keluar rumah, entah ke mana perginya. Boleh jadi menyatu dengan angin laut, boleh jadi pula mengembara mengiringi awan-awan jauh ke kaki langit. Entah apa pun juga yang orang bilang, Langsat tetap masih termenung di samping petiduran emak.

Diam-diam, tahulah Langsat: ia sendirilah yang membunuh emak.

Sungguh ceroboh kelakuannya semalam. Kenapa Langsat membuka tingkap di larut malam? Hanya kepanasan, lagi. Terlampau remeh untuk dijadikan dalih. Lagipula, Langsat sudah diingatkan berkali-kali: tutuplah tingkap dan rapatkan kelambu setelah matahari terbenam. Bukan hanya orang tuanya yang memperingatkan, seisi kampung pun tahu.

Sudah berkali-kali pula Langsat diperingatkan: angin bukan hanya memberi. Bolehlah angin meniupkan layar-layar perahu untuk pergi mencari ikan. Bolehlah pula angin mengirimkan desiran sejuk pereda gerah. Bolehlah juga angin memberikan nyawa yang dihirup sehari-hari oleh Langsat dan oleh orang sekampung.

Namun, angin juga mengambil. Tiupan di layar perahu, sejuk yang berembus, dan nyawa yang dihirup bolehlah pergi mendadak, dan tak kan pernah kembali lagi.

Agaknya, peringatan-peringatan itu masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Langsat malah tetap membuka tingkap semaunya sendiri, hanya agar dia tak berkeringat lagi.

Bodoh betul perbuatannya itu. Angin jadi boleh memasuki rumah. Angin jadi boleh mengambil nyawa emak. Angin jadi boleh pula keluar rumah, tak menyisakan barang sekejap mata pun bagi Langsat untuk melihat dada emak yang tak lagi kembang-kempis.

Langsat merunduk bertopang lutut. Pedih hatinya. Seisi dadanya berat, dicabik-cabik nyeri.

“Lang? Nak? Mari sini.”

Langsat pun menengok. Bapak berdiri di depan petiduran, menyibak kelambu. Betul-betul serak panggilannya. Namun, bapak tetap tersenyum, biarpun kecil.

Langsat pun ikut tersenyum untuk menenangkan hati bapak. Namun demikian, sekadar tersenyum sudah menguras seluruh tenaganya. Tak mampu lagi ia bangkit dan memeluk bapak. Maka, Langsat hanya kembali meratapi petiduran yang kini, esok, dan nanti hanya akan diisi bapak seorang diri.

Dari terjadi sampai selesai, Langsatlah yang bersalah. Belakang hari nanti, harusnya ia berkenan menyerahkan diri agar dapat dikenai ganjaran yang setimpal dengan pembunuhan emaknya sendiri.

Pundak Langsat digapai tangan seseorang. Tak usah lagi ia berbalik untuk mengetahui tangan siapa. Kenal betul ia dengan hangatnya, dan dengan telapak kasarnya, buah manis mencengkeram jaring-jaring ikan di laut lepas.

Sejenak itu, Langsat teringat akan kesempatan melautnya berdua bapak. Sungguh mencengangkan, seorang perempuan ikut melaut. Namun, Langsat ialah anak sang penghulu perkampungan; lengah ketegasan bapak dalam menjunjung aturan. Teringat olehnya bau segar laut yang ditiup sepoi-sepoi, riak air yang berkelap-kelip diterangi matahari, dan kasarnya jaring ikan yang telah berkali-kali dipegang tangan bapaknya ini.

Senyum Langsat mengembang kedua kalinya. Tercapai juga keinginannya: hatinya dapat teralihkan dari kematian emak biar sekejap.

“Jangan menangis, ya,” ucap bapak. “Anak bapak tegar. Emak nanti bersedih pula, habis tahu Langsat malah menangis.”

Langsat terkekeh. Mana boleh ia menangis, sedangkan dia sendiri yang telah memperbolehkan sang angin mengambil nyawa emak?

Namun, Langsat hanya membalas, “Iya, Pak.” Tak boleh ia ungkapkan penyesalannya sendiri, apalagi ke bapaknya.

Bapak melepas tangannya dari pundak Langsat, lalu berjalan ke arah kelambu. Sambil menyibaknya, bapak berucap, “Emak dah ada di bilik pembaringan, hampir selesai dirias. Habis ini, datanglah ke sana. Bawakan air kelapa dua buah, satu untuk emak, satu untuk Langsat.”

Langsat menoleh ke arah bapak. “Bapak sendiri mau ke mana?”

“Ke balai pertemuan,” balas bapak sebelum mengesah. “Harus diperbincangkan betul-betul pengabuan emak nanti. Barangkali, bapak baru boleh ke pembaringan habis petang.”

Langsat mengangguk dalam diam. Kembali lagi ia meratapi petiduran emak, agak kecewa dengan kepergian bapak.

“Perhatikan emak baik-baik, ya, selagi bapak pergi. Akan senang, emak, dirawat anak tunggalnya sendiri,” ucap bapak. Ia pun keluar kelambu. Langkahnya berdebam menuruni tangga rumah.

Sekarang, Langsat sendirian lagi. Nantinya juga, sendirian jugalah Langsat di rumah. Bapak pergi melaut, sedang emaknya tak ada lagi di sisinya. Tidak ada lagi yang akan mengawaninya mengurai mayang, berbelanja di pekan, dan tidak ada lagi yang akan mengajarinya menghitung pasokan makanan dan lauk-pauk untuk Kampung Pesisir Barat.


***


Matahari sudah berayun dari puncaknya. Bayang-bayang pun sedikit tercondong ke arah barat, menuju lautan. Di tengah hari yang terik ini, Langsat pun memutuskan keluar rumah, hendak menuju bilik pembaringan tempat emak berada.

Orang-orang langsung menyapanya di jalan.

“Dik Langsat dari mana?”

“Aih, Dik Langsat, mau ke mana, Dik?”

“Dik Langsat tak ikut bapak ke balai?”

“Sana ke pembaringan, Dik, emak dah selesai didandani.”

Terhadap sapaan-sapaan itu, Langsat hanya mengangguk sambil tersenyum. Bukan tidak ingin hatinya melayani orang-orang yang sudah bersusah payah membantu mengurus emak dan merapikan rumah; ia hanya kecapaian merenung tadi di petiduran.

Tibalah Langsat di depan bilik pembaringan. Disebut bilik memang, lantaran kecil. Namun, sebenarnya tempat ini bangunan sendiri, terpisah dari rumah induk. Layaknya rumah-rumah lainnya, lantainya panggung, didukung tiang-tiang yang sengaja ditempatkan di bibir pantai, tempat pasir dan air bertemu. Dibandingkan rumah induk yang ditutup tingkap, bilik pembaringan hanya ditutupi layar tipis selembar, yang teramat tipis sampai-sampai yang di dalamnya tampak dari luar.

Langsat menaiki tangga ke serambi bilik, lalu berhenti tepat di depan layar jalan masuk. Ia bersembah, dan setelah melegakan dada, layar dia sibak.

Bilik sepi orang. Namun, penuh hiasan. Bunga-bungaan dirangkai rapi di sudut-sudut, dan saji-sajian memenuhi lantai, berderet-deret sepanjang dinding. Di ujung lain bilik, sajian bertumpuk di sekitaran pembaringan. Mayang kelapa menjulang di kanan-kirinya, membingkai tingkap yang hanya ditutupi layar tipis selembar. Emak terbaring telentang di atas pembaringan, kedua tangan di atas dada.

Langsat seolah ingat pemandangan ini. Tepat seakan yang dia lihat setelah membuka tingkap dan membiarkan angin masuk.

Dada emak tidak naik-turun. Tidak ada lagi nyawa dalam tubuhnya.

Setelah bersembah di sampingnya, Langsat pun duduk bersimpuh. Dia tatapi emaknya sekarang. Cantik. Rambutnya digerai. Kalung kerang-kerangan putih, kuning, sampai hijau menghiasi leher dan dadanya. Kemban putih bersih membungkus tubuhnya, yang dari pinggang ke bawah diselimuti kain putih lainnya.

Langsat tersenyum getir. Lalu, ia kembali bersembah sambil terpejam.

"Ampun, Mak … Langsat dah bersalah …."

Lima patah itu semata yang mampu Langsat ucapkan. Parau tenggorokannya. Selebihnya, ia diam tertunduk menahan tangis.

Sampai akhirnya, terdengar derap langkah menaiki tangga.

Langsat menoleh. Seseorang menyingkap layar masuk. Seorang laki-laki, sepantaran Langsat. Kain bercorak segitiga kuning-merah menyarungi pinggang dan kakinya, sedangkan di bahunya terselempang kain putih, penanda orang pintar. Sekotak sajian ada di tangannya.

“Eh, ada Langsat,” ucap orang itu.

Setelah Langsat mengelap air matanya yang tertahan, barulah jelas siapa yang sedang berjalan mendekat: Langit, anaknya Datuk Mata Elang, sang pawang dan cenayang Kampung Pesisir Barat.

Langsunglah Langsat memperbaiki rambut dan duduknya. “Mau menaruh sesaji, Lang?”

Langit duduk di samping Langsat, lalu bersembah ke emak. “Haah,” balasnya sambil meletakkan sesaji di samping pembaringan. “Harusnya aku datang lebih duluan,” ucapnya, lalu terkekeh. “Sayang, dipanggil ibu tadi, dibilang harus membantu mempersiapkan balai pertemuan dulu. Kamu tak datangkah ke sana?”

Langsat menggeleng. “Aku mau berdua emak dulu, meminta am-”

Langsung Langsat menutup mulut. Hampir ia membocorkan sendiri alasannya kemari. Jangan sampai siapa pun tahu, termasuk Langit, biarpun dia kawan dekatnya. Namun, Langsat baru teringat: Langit, layaknya ibunya, juga seorang cenayang. Melihat isi hati seseorang bukanlah sulit baginya.

Takut-takut Langsat bertatap mata dengan Langit. Namun, tahunya Langit hanya diam meratapi emak, tidak lebih. Tak tampak keraguan di tampangnya. Barulah Langsat lega.

“Meminta ampun kenapa?”

Jantung Langsat berhenti berdetak. “Eh, em, anu …”

Sial! Isi hatinya sudah dilihat!

Langit malah tertawa. “Tak usah dibalas sekarang,” ucapnya. “Habis ini, aku mau ke rumah, menyiapkan sajian asap. Harus dibuat lebih banyak pekan ini.”

“Aih? Kenapa lebih banyak?”

“Sebulan-dua bulan lagi, kan, Sangyang Barat datang, penghujan juga datang. Makanya sajian yang dipersembahkan harus dua kali lipat.”

Langsat mengangguk-angguk. Baru teringat Langsat, tak lama lagi, kemarau akan berganti.

Langit pun berdiri. “Habis itu, aku mau ke balai pertemuan. Ibu menyuruh membuatkan air kelapa beberapa buah untuk orang-orang di sana. Mau ikut, tak?”

Langsat baru teringat disuruh bapak membawa air kelapa ke bilik pembaringan. “Eh, ah, aku ikut, aku ikut. Tunggu sebentar dulu ya, aku mau membuat air kelapa dulu untuk emak,” ucapnya sebelum beranjak.

“Lah, sekalianlah berdua aku. Sambil menyelam minum air, kan? Aku membuatkan kelapa untuk orang di balai pertemuan, kamu membuatkan kelapa untuk emak. Nanti habis sudah, tinggal susul langsung ke balai.”

Terbengong-bengong sebentar Langsat. Terbayang olehnya memotong-motong kelapa berdua Langit. Lalu, tersadar dari lamunannya, Langsat mengangguk. “Boleh, boleh.”

Keduanya pun bersembah sekali lagi ke emak, lalu keluar bilik pembaringan menuju rumah Langit.


Senin, 07 Februari 2022

Balai Peranginan, Balai Bengong

Kemarin-kemarin saat menjelajahi lautan kosakata di KBBI di larut malam, aku menemukan istilah ini:


Aku langsung tertarik dengan istilahnya. Karena aku belum pernah melihat balai peranginan secara langsung, aku cuma bisa membayangkan seperti apa bentukannya. Pada jam-jam 1–2 malam seperti itu, otakku sudah lelah sebenarnya mau berangan-angan. Jadinya, aku cukup membayangkan sebuah “balai” yang kegunaannya cuma untuk peristirahatan.

Mencari-cari di internét pun alangkah sia-sia, karena carian “balai peranginan” hanya memunculkan gambar-gambar tulisannya saja. Jadi, sampai malam itu dan hari-hari berikutnya, aku masih mempertanyakan bentuknya sebuah “balai peranginan” itu seperti apa.

Sampai akhirnya, sehari yang lalu, aku menulis pembukaan sebuah cerita. Begini bunyinya:

Aku duduk bertopang dagu di atas pembatas kayu. Di depanku, anak-anak pada bermain békel, tapi tidak memakai bolanya, melainkan batu yang cukup dilémparkan ke atas. 

Aku mengubah posisi. Kali ini, aku membelakangi pembatas kayu, bertopang siku. Di depanku adalah intérior bangunan yang cukup terbuka. Tidak ada dinding di antara tiang-tiang penyangga atapnya, yang ada hanyalah bilah-bilah kayu yang digulung ke atas, sehingga angin leluasa berembus. Orang pada duduk-duduk di sini, dari yang muda sampai yang tua. Ada yang berbincang-bincang, ada yang mencamil jajanan. 

Awalnya, aku senang-senang saja dengan tulisanku. Namun, di situlah aku baru sadar, aku masih sama sekali tidak tahu “balai peranginan” itu bentuknya seperti apa. Aku belum tahu benar, apakah di balai peranginan, ada pembatas kayu atau tidak. Namun, kalau mencari “balai peranginan” tidak memunculkan apa-apa, apa yang harus aku lakukan?

Barulah aku teringat dengan istilah keduanya, “balai bengong”. Di dalam éntrinya di KBBI, ada catatan “Bl”, yang berarti kata tersebut berasal dari bahasa Bali. Kebetulan, aku tahu sedikit soal hukum perubahan bunyi di bahasa Bali; kalau di bahasa Indomelayu ada kata berakhiran /ai/, maka di bahasa Bali kemungkinan /e/.

Jadinya, yang harus kucari adalah balé bengong.

Akhirnya, aku mendapatkan bangunan yang kucari-cari :D

Ternyata, beginilah rupa balai bengong. Mirip seperti gazébo, tapi kawan Bali-ku bilang, lebih besar.

Jadi, tahulah aku, déskripsiku mengenai pembatas kayu di ceritaku salah. Tidak ada pembatas kayu di balai bengong, adanya tiang-tiang penyangga atap. Tidak ada juga tirai kayu gulung, karena di antara tiang-tiang penyangganya tidak diisi apa-apa.

Lalu, aku teringat, dalam bahasa Melayu, sebuah “balai” tidak mungkin sekecil ini. “Balai” merujuk kepada bangunan yang lebih luas, lebih lébar, lebih besar. Jadi, kalau aku mau mempertahankan konsép “peristirahatan publik” di dalam ceritaku, aku harus mencari tahu, seperti apa “balai peranginan” itu.

Nah, sehabis aku perhatikan lagi, balé bengong mirip bentuknya dengan sebuah pendhapa, tapi lebih kecil.

Jika aku terapkan bentukan pendhapa ini ke latar ceritaku, maka aku bisa mendapatkan sebuah “balai” (bangunan besar) yang digunakan untuk berangin-angin.

Hasilnya, latar di bagian ceritaku itu berubah menjadi seperti ini:

Aku duduk bertopang dagu di atas anak tangga. Di depanku, anak-anak pada bermain békel, tapi tidak memakai bolanya, melainkan batu yang cukup dilémparkan ke atas.

 …

Aku mengubah posisi. Kali ini, aku bersandar di samping tiang penyangga atap. Di sampingku adalah intérior bangunan yang cukup terbuka. Tidak ada dinding di antara tiang-tiang penyangga atapnya, sehingga angin leluasa berembus. Orang pada duduk-duduk di sini, dari yang muda sampai yang tua. Ada yang berbincang-bincang, ada yang mencamil jajanan. 

Meskipun balai peranginan yang aku bayangkan bisa saja tidak tepat seperti balai peranginan yang ada di zaman dahulu, kurang-lebih, aku bisa mengira-ngira bentuknya melalui bangunan-bangunan yang mirip di tempat lainnya.

Rabu, 30 Juni 2021

Berburu Si Kijang Hantu (II)

Biar daun-daun belum berembun dan matahari belum juga terbangun, rumah-rumah sudah kosong akan penghuni. Seisi Kampung Sungaipanjang bergerak dalam pemburuan ini; dari pemburu sampai pembantu, dari yang tua sampai yang kanak, dari lelaki dan perempuan sampai dukun dan balian.

Yang masih muda, yang lagi mengandung, dan yang tengah bersakit pada diam di sekitaran kampung, berhati-hati bila-bila datang itu kijang. Tiap-tiap tangan menggenggam satu dari sekian senjata yang tersedia: pedang, parang, keris, tombak, juga panah.

Sementara itu, Hutan Merindang sudah dikepung sisi-sisinya. Obor-obor pantang dibawa menurut perkumpulan semalam—jadinya, hanya atas bulan dan bintang para pemburu boleh melihat. Bayang-bayang pohon menggunung dan daun yang menyelimuti langit menutupi tiap jengkal hutan, semakin menyulitkan orang-orang mencari.

Namun, bukan Tuk Pelari jika tak bergerak di dalam gelap. Dengan pemburu-pemburu lain yang mengikuti dari belakang, ia mengendap-endap, melewati ilalang yang menggesek kakinya dan daun-daun lebar yang mengelus tangannya dingin. Langkah-langkah kaki diam, agar tiada satu barang pun berbunyi, memberi tahu si kijang dia akan dibunuh mati malam itu juga.

Tiba-tiba, Tuk Pelari berhenti. Berhentilah pula orang-orang yang mengikuti.

Di depan sana, di balik kabut, terlihat sekelebat bayangan tengah berdiri sendiri. Tanduknya tinggi lagi besar. Tubuhnya kekar. Kakinya panjang.

Tak salah lagi. Ini adalah kali kesatu Tuk Pelari mampu menatap si kijang hantu di depan mata.

Tangannya diangkat. Aba-aba berpencar. Orang-orang mengendap-endap lagi mengelilingi si kijang.

Tangannya dikepal. Aba-aba bersiap. Anak-anak panah ditarik dalam busurnya. Tombak-tombak diangkat sebahu, siap diluncurkan kapan saja.

Tangannya diayun. Aba-aba menembak.

Puluhan panah melesat dari balik dedaunan. Sekian menancap di batang pohon. Sekian mendarat di atas tanah. Namun tak satu pun mengenai si kijang, lantaran sudah terlanjur berlari dia ke tengah hutan.

Tiada barang sekedip patut disia-siakan. Seisi kelompok bergerak gesit menembus hutan. Langkah yang tadinya pelan kini berlari cepat, menggemertakkan daun dan ranting kering sepanjang jalan. Rintang akar-akar gergasi tak menghalangi kejar-kejaran. Angin dingin yang berhembus kencang seraya berlari mengelap keringat yang menetes membasahi pipi.

Tuk Pelari kembali mengangkat busurnya sembari kakinya berderap melintasi akar dan daun kering. Kijang itu sudah di depan matanya; bila boleh dia tembakkan panahnya mengenainya, maka usailah sudah pemburuan ini. Maka, ia ambil sepucuk panah, lalu dikencangkan dalam busurnya. Matanya dipejamkan sebiji, panahnya mengarah tepat ke arah ubun-ubun si kijang.

Panah ini bukan sembarang panah. Sudah dijampi-jampi, dibersihkan, juga ditajamkan benar-benar. Tak boleh disia-siakan perundingan dan persiapan semalam, dan harus dia dapatkan itu kijang pagi ini juga.

Ia lepas jepit jarinya. Bunyi seliung dari busurnya mengiringi anak panah yang melesat kencang, membelah angin, lurus menuju sasarannya, dan menancap tepat di belakang lehernya.

Kijang itu jatuh. Para pemburu berhenti berlari.

Tuk Pelari juga terjatuh tiba-tiba. Di lehernya, tertancap pula panah sebatang, seiras serasi dengan panah yang tertancap di leher si kijang.

Senin, 07 Juni 2021

Berburu Si Kijang Hantu (I)

"Siapa terbang sampai ke puncak
Melayang hingga ke puncak gunung
Siapa pulang kijang diarak
Melayang nyawa di dalam gantung"
 ***
Sudah berpekan-pekan lamanya Tuk Pelari muram. Bini dan anaknya turut gelisah setiap kali ia pulang, biarpun hasil buruan dibopong banyak dan cukup mengisi perut selama sepekan. Sebenarnya, bukan buruan yang sudah ditangkap yang jadi alasan kemuramannya, melainkan yang belum ditangkap.

Dari beberapa bulan lalu, tersebar buah bibir mengenai seekor kijang yang dibilang-bilang tak mampu, tak bisa, tak dapat, dan tak boleh ditangkap. Orang-orang yang pergi ke hutan bilang, itu kijang berlari seolah-olah angin, hanya nampak bila ada di ujung mata. Begitu sengaja dilihat, kijang itu kabur, hilang entah ke mana. Bukan cuma yang berhutan yang melihatnya; yang berladang dan berkebun pun turut menyampaikan demikian.

Buah bibir yang menyebar luas kemudian dipermanisdaging kijang itu sedap bukan main; tanduknya bisa laku dijual di pekan; kulitnya bertuah, yang memakai kebal dari ancaman manapun. Maka, tak heran banyak orang mencoba memburu kijang satu itu.

Tuk Pelari termasuk salah satunya. Gelar datuk yang dia punya tidak diperolehnya sembarangan. Ia pemburu handal, dikenal se-Kampung Sungaipanjang sampai kampung-kampung tetangga. Buah tangkapannya selalu banyak lagi mengundang ramai, sering sekali dimintai. Kaki dan tangannya lihai lagi cekatan, mampu mengejar macan tercepat sekalipun, mencengangkan kaki-tangannya tiap kali pulang berburu. Matanya jeli melebihi helang, semut paling kecil pun boleh dia tangkap dengan tangan kosong.

Maka, tak heran lah jika muram bukan main Tuk Pelari, tak mampu menangkap kijang itu berpekan-pekan. Lantaran dikagumi orang banyak, sudah banyak pula yang membantunya memburu si kijang; mengejarnya, menembaknya, memerangkapnya, dan lain-lain. Sayang, tidak satu pun mampu membawa si kijang mati maupun hidup-hidup.

Demi menyelesaikan kepelikan ini, di hari bulan penuh Tuk Pelari dengan kawan-kawannya berunding di dangau tengah sawah, ditemani orang kampung lain yang tertarik, tak lupa bali-balian dan cenayang yang menyumbang saran. Setelah tengah malam lewat, dicapailah suatu kesepakatan akan suatu persiapan.

Belakang hari, itu kijang hantu akan meregang nyawa.

Jumat, 04 Juni 2021

Aji-ajian: Mantra dalam Fantasi dan Adaptasinya

Awal Terpikirnya

Semalam, aku terpikir akan mantra. Bukan mantra yang digunakan untuk berdoa atau kegiatan ibadah ya, tapi mantra yang umum digunakan dalam dunia cerita fantasi—kalau dalam bahasa Inggris, namanya spell.

Mantra ini termasuk salah satu jenis sihir (magic) yang perlu dirapal untuk dilakukan. Dalam dunia perfantasian, banyak sekali contoh yang bisa diambil; Harry Potter karya J. K. Rowling adalah penyumbang besar dalam menyebarluaskan mantra-mantra dalam dunia fantasi. Ciptaannya yang terkenal di antaranya:

  • Alohomora
  • Accio
  • Avada kedavra
  • Expecto patronum
Tiap-tiap mantra ini punya asal-usulnya sendiri. Alohomora misalnya, berasal dari sebuah praktik perdukunan Madagaskar yang disebut Sikidy. Ia termasuk salah satu simbol yang digunakan dalam Sikidy, dan akarnya berasal dari kata bahasa Arab الحمر (al-ḥumru) yang berarti mérah. Ada kontrovérsi seputar perkataan Rowling sendiri atas mantra ini, tapi aku enggan membahasnya di sini.

Selain Harry Potter, banyak lagi karya lainnya yang menggunakan mantra dalam persihiran. 無職転生 〜異世界行ったら本気だす (Mushoku Tensei: Isekai Ittara Honki Dasu) karya 理不尽な孫の手 (Rifujin na Mago no Te) termasuk salah satunya. Bahkan nih ya, kalau dibandingkan dengan Harry Potter, Mushoku Tensei punya mantra yang lebih kompléks, yang sayangnya sampai sekarang belum kudapatkan vérsi tertulisnya. Jadinya, nikmati saja vérsi cuplikannya di sini.

Adaptasi ke Cerita Sendiri

Nah, dari dua contoh penggunaan mantra dan sekian banyak yang tak kusebutkan di sini, tinggal satu pertanyaan yang tersisa: bagaimana cara menerapkan mantra dalam ceritaku sendiri nantinya?

Bisa saja sih, aku meniru salah satu cara dari cerita-cerita yang sudah ada, seperti menggunakan mantra singkat ala-ala Harry Potter atau membuat rapalan panjang seperti Mushoku Tensei. Namun, aku tidak mau—keduanya terasa… terlalu "asing". Tidak cocok dengan budaya dan pengertian "sihir" yang ada dalam ceritaku.

Mantra yang Sesuai

Jadi, ceritaku ini menggunakan latar bahasa Cakap Melayu—atau sering disebut Béka Melayu—yang tentunya harus diiringi dengan latar tempat dan budaya yang sesuai juga, ala-ala Melayu dan Asia Tenggara. Perapalan mantra singkat juga panjang rasanya tak sesuai kalau dimasukkan ke dalam budaya seperti ini.

Jadi, harus mantra seperti apa yang kumasukkan ke dalam cerita?

Mencari-cari rujukan di internét ternyata tidak berbuah manis, karena sebagian besar cuma kopas dari satu artikel ke artikel lainnya. Namun, aku dapat inspirasi dari kopas-kopas itu: memakai pantun sebagai médium mantra.

Pantun Aji-ajian

Pantun kupilih menjadi padanan mantra karena terkenal, mudah dikenali, dan tentunya mampu mengandung unsur magis. Selain merupakan puisi yang sudah tertanam rapi dan mendarah daging dalam kebudayaan Melayu serta tetangga-tetangganya, pantun bisa mengandung banyak tema, mulai dari percintaan, canda tawa, sampai unsur-unsur magis. Makanya kuambil puisi ini sebagai medium mantra di Tangelar. Kunamai pantun mantra ini aji-ajian, karena ajian sudah kugunakan sebagai padanan sihir.

Nah, coba dilihat dulu beberapa aji-ajian yang sudah kubuat:

Angin beku jari menggigil
Mengambil nyawa memecah kuku
Angin beku dikau kupanggil
Ambillah nyawa musuh-musuhku

Awan hujan awan berapi
Siram tanaman berair masam
Turun hujan turunkan api
Sirami lawan menjadi asam

Dua aji-ajian ini kubuat mengikuti konsép sihir hitam (black magic), yaitu sihir menyerang. Bisa dimengerti kan, kalau pantun pertama memanggil angin dingin yang membebukan, sedang yang kedua memanggil hujan api.

Timang-timang seolah anak
Ditimang sampai tidurnya léna
Timang-timang seolah minyak
Baluri sampai sembuh lukanya

Aji-ajian yang satu ini kubuat mengikuti konsép sihir putih (white magic), yakni sihir penyembuh. Yang terbayang di kepalaku, orang yang merapal memanggil sejenis minyak yang jika dioléskan mampu menyembuhkan luka.

Rumus

Jika dibaca-baca lagi, kesemua pantun yang kubuat mengikuti satu rumus yang masih dibilang longgar: sampiran menyampaikan sesuatu yang dipanggil, isi menyampaikan panggilannya. Pantun ketiga mungkin bisa dibilang pengecualian, tapi masih bisa diubah nantinya agar lebih mengikuti rumus ini.

Rencana

Nantinya, aku mau menambahkan unsur-unsur saji-sajian ataupun tari-tarian dalam praktiknya. Entah buat apa, belum ketemu gunanya, sih—mungkin untuk memperkuat ajian, nanti bisa kucari lagi. Karena namanya aji-ajian dan ajian, bisa kumasukkan ke dalam ceritanya sekolah yang mengajarkannya. Dengan kata lain, murid-muridnya mengaji dan mengkaji ajian, hehe.

Aku Tak Bisa Mengerti

Mari kita bertukar nama; aku menjadi kamu, kamu menjadi aku. Kamu pun membuka mata. Di seberang jendéla, sang bulan telah terbit. Untungny...