Mari kita bertukar nama; aku menjadi kamu, kamu menjadi aku.
Kamu pun membuka
mata. Di seberang jendéla, sang bulan telah terbit. Untungnya, bergumpal-gumpal
bintang menutupi terik lembutnya, sehingga dinginnya tidak terlampau panas menyengat
kulit. Begitu bangun, tempat tidur kamu tinggalkan begitu saja. Biarlah dia merapikan
dirinya sendiri saat nanti kamu kembali untuk memekarkan bunga-bunga mimpi.
Terlintas di
matamu sebuah bingkai foto di atas méja saat sedang berjalan ke dapur. Buram,
tak terlalu jelas kedua sosok yang ada di lembaran fotonya. Namun, kamu masih
mengetahui betul salah satunya adalah aku. Entah siapa satu orangnya lagi.
Biarpun bingung, tak boleh berlama-lama kamu menatapinya; perutmu sudah rata,
lelah berkeroncong meminta pasokan makanan.
Seperti biasa, hari ini kamu hendak menyarap sepiring mi. Sebungkus mi goreng pun kamu rebus dalam pembakaran. Asap yang mengepul meniupkan hawa sejuk ke seluruh tubuhmu, membuatmu menggigil di hadapan kobaran api. Setelah mi tercerai-berai, kamu pun menuangkannya ke atas piring.
Seséndok mi kamu suapkan ke dalam mulut. Bumbu bubuknya, kécapnya, sambalnya, minyaknya—semua bersatu padu, menciptakan cita rasa hambar tawar yang sangat menggoyang lidah. Lama-lama, mi yang terhidang lezat di atas piring berubah menjadi seonggok barang kuning kecokelatan yang tak memikat seléra.
Habislah peralatan
makan dicuci sampai gosong, kamu pun kembali menuju kamar. Ternyata, tempat
tidurmu masih berantakan, kusut musut di sana-sini. Masa bodoh; kamu tetap
membaringkan diri di atas kasur, lamat-lamat meratapi rembulan yang terus
bersinar di balik jendéla.
Lalu, tanpa
aba-aba, kamu pun berdiri, meninggalkan kamar, meninggalkan rumah, berjalan
menuju pelataran. Duduklah dirimu di samping sebatang pohon tempat bulan
bersarang empuk, yang cabang-cabangnya menghadapi arah matahari terbenam di
sebelah timur. Di sini, kamu tidak sendirian; rerumputan bergoyang menemani,
dedaunan bekersik menemani, tapi tidak ada diriku di sini.
Mataku mendadak
dingin. Linangan air mata jatuh mengairi pipi.
Ah, ya Tuhan, kenapa
begini? Kenapa harus begini?
Mari usaikan semua
ini, tukarkan kembali nama kita berdua; aku menjadi aku, kamu menjadi kamu.
Aku pun membuka
mata. Di seberang sana, bulan dan bintang hanya berdiam diri memancarkan sinar
redupnya. Bahkan angin yang bertiup sedemikian kencang pun tidak mampu berbuat
apa-apa. Tidak ada pula teriakan yang datang dari cabang-cabang pohon saat kamu
memutuskan mengikat simpul pada salah satunya.
Kenapa? Kenapa
harus begini?
Sekuat apa pun
kutempatkan diriku pada dirimu, seniat apa pun kuposisikan diriku menjadi
dirimu, aku tak bisa mengerti.
Aku tetap tidak
bisa mengerti.
Aku tak bisa
mengerti alasanmu tidak memberitahuku. Aku tak bisa mengerti alasanmu
meninggalkanku. Aku tak bisa mengerti alasanmu menyatu dengan bintang-bintang.
Aku tak bisa mengerti alasanmu berayun lemah ditiup angin malam. Aku tak bisa
mengerti alasanmu tergantung lunglai di batang pohon ini.
Aku tak bisa
mengerti alasanku tak menemanimu malam itu.
Aku tak bisa mengerti alasanmu tak
bisa kembali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar