Tampilkan postingan dengan label Bangunan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bangunan. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Februari 2022

Balai Peranginan, Balai Bengong

Kemarin-kemarin saat menjelajahi lautan kosakata di KBBI di larut malam, aku menemukan istilah ini:


Aku langsung tertarik dengan istilahnya. Karena aku belum pernah melihat balai peranginan secara langsung, aku cuma bisa membayangkan seperti apa bentukannya. Pada jam-jam 1–2 malam seperti itu, otakku sudah lelah sebenarnya mau berangan-angan. Jadinya, aku cukup membayangkan sebuah “balai” yang kegunaannya cuma untuk peristirahatan.

Mencari-cari di internét pun alangkah sia-sia, karena carian “balai peranginan” hanya memunculkan gambar-gambar tulisannya saja. Jadi, sampai malam itu dan hari-hari berikutnya, aku masih mempertanyakan bentuknya sebuah “balai peranginan” itu seperti apa.

Sampai akhirnya, sehari yang lalu, aku menulis pembukaan sebuah cerita. Begini bunyinya:

Aku duduk bertopang dagu di atas pembatas kayu. Di depanku, anak-anak pada bermain békel, tapi tidak memakai bolanya, melainkan batu yang cukup dilémparkan ke atas. 

Aku mengubah posisi. Kali ini, aku membelakangi pembatas kayu, bertopang siku. Di depanku adalah intérior bangunan yang cukup terbuka. Tidak ada dinding di antara tiang-tiang penyangga atapnya, yang ada hanyalah bilah-bilah kayu yang digulung ke atas, sehingga angin leluasa berembus. Orang pada duduk-duduk di sini, dari yang muda sampai yang tua. Ada yang berbincang-bincang, ada yang mencamil jajanan. 

Awalnya, aku senang-senang saja dengan tulisanku. Namun, di situlah aku baru sadar, aku masih sama sekali tidak tahu “balai peranginan” itu bentuknya seperti apa. Aku belum tahu benar, apakah di balai peranginan, ada pembatas kayu atau tidak. Namun, kalau mencari “balai peranginan” tidak memunculkan apa-apa, apa yang harus aku lakukan?

Barulah aku teringat dengan istilah keduanya, “balai bengong”. Di dalam éntrinya di KBBI, ada catatan “Bl”, yang berarti kata tersebut berasal dari bahasa Bali. Kebetulan, aku tahu sedikit soal hukum perubahan bunyi di bahasa Bali; kalau di bahasa Indomelayu ada kata berakhiran /ai/, maka di bahasa Bali kemungkinan /e/.

Jadinya, yang harus kucari adalah balé bengong.

Akhirnya, aku mendapatkan bangunan yang kucari-cari :D

Ternyata, beginilah rupa balai bengong. Mirip seperti gazébo, tapi kawan Bali-ku bilang, lebih besar.

Jadi, tahulah aku, déskripsiku mengenai pembatas kayu di ceritaku salah. Tidak ada pembatas kayu di balai bengong, adanya tiang-tiang penyangga atap. Tidak ada juga tirai kayu gulung, karena di antara tiang-tiang penyangganya tidak diisi apa-apa.

Lalu, aku teringat, dalam bahasa Melayu, sebuah “balai” tidak mungkin sekecil ini. “Balai” merujuk kepada bangunan yang lebih luas, lebih lébar, lebih besar. Jadi, kalau aku mau mempertahankan konsép “peristirahatan publik” di dalam ceritaku, aku harus mencari tahu, seperti apa “balai peranginan” itu.

Nah, sehabis aku perhatikan lagi, balé bengong mirip bentuknya dengan sebuah pendhapa, tapi lebih kecil.

Jika aku terapkan bentukan pendhapa ini ke latar ceritaku, maka aku bisa mendapatkan sebuah “balai” (bangunan besar) yang digunakan untuk berangin-angin.

Hasilnya, latar di bagian ceritaku itu berubah menjadi seperti ini:

Aku duduk bertopang dagu di atas anak tangga. Di depanku, anak-anak pada bermain békel, tapi tidak memakai bolanya, melainkan batu yang cukup dilémparkan ke atas.

 …

Aku mengubah posisi. Kali ini, aku bersandar di samping tiang penyangga atap. Di sampingku adalah intérior bangunan yang cukup terbuka. Tidak ada dinding di antara tiang-tiang penyangga atapnya, sehingga angin leluasa berembus. Orang pada duduk-duduk di sini, dari yang muda sampai yang tua. Ada yang berbincang-bincang, ada yang mencamil jajanan. 

Meskipun balai peranginan yang aku bayangkan bisa saja tidak tepat seperti balai peranginan yang ada di zaman dahulu, kurang-lebih, aku bisa mengira-ngira bentuknya melalui bangunan-bangunan yang mirip di tempat lainnya.

Aku Tak Bisa Mengerti

Mari kita bertukar nama; aku menjadi kamu, kamu menjadi aku. Kamu pun membuka mata. Di seberang jendéla, sang bulan telah terbit. Untungny...