Jumat, 11 Maret 2022

“Waktu” dalam Cakap Melayu: Bagian Ketelu

— o — Bagian Ketelu — o —

Uraian

— o — o — o —

Mari kita perhatikan baik-baik kata-kata penghubung di dalam dongéng di bagian satu, mulai dari paragraf kedua:

Tahu-tahunya, selagi berjalan, pepohonan yang berlalu pun berganti macam. Yang tadinya pohon-pohon kélor kini menjadi pohon-pohon rambutan. Belakangan, pohon rambutan yang kamu lalui péndék-péndék. Ke hadapan, kamu melihat pohon-pohon yang lebih tinggi yang akan kamu lalui.

Dari situ, kita mendapatkan tiga penanda urutan:

• Berlalu

• Belakangan

• Ke hadapan (atau “ke depan”)

Kata berlalu mengungkapkan bahwa sesuatu telah terjadi. Pohon-pohon yang berlalu kamu lalui dianggap memasuki waktu yang telah terjadi. Kata belakangan mengungkapkan konsép yang serupa, tapi tak sama: berlalu mengungkapkan kejadian yang sudah terjadi secara keseluruhan, sedangkan belakangan mengungkapkan kejadian yang baru-baru ini terjadi. Bertolak belakang dengan keduanya, kata ke hadapan menggambarkan kejadian yang belum terjadi, lantaran belum dilalui dan belum berlalu. Dari sinilah kita mendapat ungkapan “masa depan” :3

Ingat baik-baik kata belakangan itu, karena nantinya, akan ada suatu pembahasan menarik ;3

Sekarang, mari kita téngok paragraf ketiga:

Kamu menengadah. Hari sudah melampauimu, sudah berlalu meléwatimu. Sampai kapan lagi kamu harus berjalan? Danau belum juga terlihat. Mulutmu kering menahan haus, harus segera diairi.

Kita mendapatkan lagi dua kata penanda urutan:

• Lampau

• Léwat

Sama halnya dengan lalu, kata lampau dan léwat menggambarkan kejadian yang sudah terjadi. Dari sinilah kita mendapatkan ungkapan “masa lampau” dan “masa lalu” :3

Terakhir, mari kita lihat paragraf keempat:

Ani dan Bintang sampai ke danau lebih dahulu. Keduanya sudah sampai sebelum kamu, terus meminum air dari danau yang sungguh jernih itu. Kamu pun sampai, lantas ikut meminum air danau. Kemudian, Cantik dan Damar datang belakangan. Kalian berlima pun dapat memuaskan haus yang sedari tadi mengganggu.

Lagi-lagi, kita mendapatkan kata penghubung penanda urutan, yaitu:

• Lebih dahulu (atau “dahuluan”, “lebih dulu”, “duluan”)

• Kemudian

• Belakangan

Kata dahulu mengungkapkan bahwa ada sesuatu yang berada di depan kita, dan karena ada di depan kita, sesuatu itu mengalami kejadian sebelum kita. Karenanya, sesuatu yang ada dahulu dimasukkan ke dalam masa lampau. Sementara itu, kata kemudian mengungkapkan bahwa ada sesuatu yang ada di belakang kita, dan karena ada di belakang kita, sesuatu itu mengalami kejadian sesudah kita. Karenanya, sesuatu yang ada kemudian dimasukkan ke dalam masa depan.

Kalau Pembaca Sekalian bingung kenapa yang kemudian bisa ada di belakang, coba perhatikan kemudi perahu tradisional (bukan yang berbentuk roda!) ada di mana :3

Lalu, ada kata belakangan.

Sebelumnya, sudah kita ketahui kalau belakangan mengungkapkan masa lampau yang baru saja terjadi. Namun, pada penggunaannya kali ini, kata belakangan justru mengungkapkan kejadian yang belum terjadi. Hal ini dikarenakan kata belakangan di sini merujuk bukan pada lingkungan yang dilalui, melainkan pada urutan anggota kawanan sendiri.

Perbédaan antara “lingkungan” dan “kawanan” ini akan dijelaskan lebih lanjut di bagian selanjutnya :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aku Tak Bisa Mengerti

Mari kita bertukar nama; aku menjadi kamu, kamu menjadi aku. Kamu pun membuka mata. Di seberang jendéla, sang bulan telah terbit. Untungny...