Tampilkan postingan dengan label Kijang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kijang. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 Juni 2021

Berburu Si Kijang Hantu (II)

Biar daun-daun belum berembun dan matahari belum juga terbangun, rumah-rumah sudah kosong akan penghuni. Seisi Kampung Sungaipanjang bergerak dalam pemburuan ini; dari pemburu sampai pembantu, dari yang tua sampai yang kanak, dari lelaki dan perempuan sampai dukun dan balian.

Yang masih muda, yang lagi mengandung, dan yang tengah bersakit pada diam di sekitaran kampung, berhati-hati bila-bila datang itu kijang. Tiap-tiap tangan menggenggam satu dari sekian senjata yang tersedia: pedang, parang, keris, tombak, juga panah.

Sementara itu, Hutan Merindang sudah dikepung sisi-sisinya. Obor-obor pantang dibawa menurut perkumpulan semalam—jadinya, hanya atas bulan dan bintang para pemburu boleh melihat. Bayang-bayang pohon menggunung dan daun yang menyelimuti langit menutupi tiap jengkal hutan, semakin menyulitkan orang-orang mencari.

Namun, bukan Tuk Pelari jika tak bergerak di dalam gelap. Dengan pemburu-pemburu lain yang mengikuti dari belakang, ia mengendap-endap, melewati ilalang yang menggesek kakinya dan daun-daun lebar yang mengelus tangannya dingin. Langkah-langkah kaki diam, agar tiada satu barang pun berbunyi, memberi tahu si kijang dia akan dibunuh mati malam itu juga.

Tiba-tiba, Tuk Pelari berhenti. Berhentilah pula orang-orang yang mengikuti.

Di depan sana, di balik kabut, terlihat sekelebat bayangan tengah berdiri sendiri. Tanduknya tinggi lagi besar. Tubuhnya kekar. Kakinya panjang.

Tak salah lagi. Ini adalah kali kesatu Tuk Pelari mampu menatap si kijang hantu di depan mata.

Tangannya diangkat. Aba-aba berpencar. Orang-orang mengendap-endap lagi mengelilingi si kijang.

Tangannya dikepal. Aba-aba bersiap. Anak-anak panah ditarik dalam busurnya. Tombak-tombak diangkat sebahu, siap diluncurkan kapan saja.

Tangannya diayun. Aba-aba menembak.

Puluhan panah melesat dari balik dedaunan. Sekian menancap di batang pohon. Sekian mendarat di atas tanah. Namun tak satu pun mengenai si kijang, lantaran sudah terlanjur berlari dia ke tengah hutan.

Tiada barang sekedip patut disia-siakan. Seisi kelompok bergerak gesit menembus hutan. Langkah yang tadinya pelan kini berlari cepat, menggemertakkan daun dan ranting kering sepanjang jalan. Rintang akar-akar gergasi tak menghalangi kejar-kejaran. Angin dingin yang berhembus kencang seraya berlari mengelap keringat yang menetes membasahi pipi.

Tuk Pelari kembali mengangkat busurnya sembari kakinya berderap melintasi akar dan daun kering. Kijang itu sudah di depan matanya; bila boleh dia tembakkan panahnya mengenainya, maka usailah sudah pemburuan ini. Maka, ia ambil sepucuk panah, lalu dikencangkan dalam busurnya. Matanya dipejamkan sebiji, panahnya mengarah tepat ke arah ubun-ubun si kijang.

Panah ini bukan sembarang panah. Sudah dijampi-jampi, dibersihkan, juga ditajamkan benar-benar. Tak boleh disia-siakan perundingan dan persiapan semalam, dan harus dia dapatkan itu kijang pagi ini juga.

Ia lepas jepit jarinya. Bunyi seliung dari busurnya mengiringi anak panah yang melesat kencang, membelah angin, lurus menuju sasarannya, dan menancap tepat di belakang lehernya.

Kijang itu jatuh. Para pemburu berhenti berlari.

Tuk Pelari juga terjatuh tiba-tiba. Di lehernya, tertancap pula panah sebatang, seiras serasi dengan panah yang tertancap di leher si kijang.

Senin, 07 Juni 2021

Berburu Si Kijang Hantu (I)

"Siapa terbang sampai ke puncak
Melayang hingga ke puncak gunung
Siapa pulang kijang diarak
Melayang nyawa di dalam gantung"
 ***
Sudah berpekan-pekan lamanya Tuk Pelari muram. Bini dan anaknya turut gelisah setiap kali ia pulang, biarpun hasil buruan dibopong banyak dan cukup mengisi perut selama sepekan. Sebenarnya, bukan buruan yang sudah ditangkap yang jadi alasan kemuramannya, melainkan yang belum ditangkap.

Dari beberapa bulan lalu, tersebar buah bibir mengenai seekor kijang yang dibilang-bilang tak mampu, tak bisa, tak dapat, dan tak boleh ditangkap. Orang-orang yang pergi ke hutan bilang, itu kijang berlari seolah-olah angin, hanya nampak bila ada di ujung mata. Begitu sengaja dilihat, kijang itu kabur, hilang entah ke mana. Bukan cuma yang berhutan yang melihatnya; yang berladang dan berkebun pun turut menyampaikan demikian.

Buah bibir yang menyebar luas kemudian dipermanisdaging kijang itu sedap bukan main; tanduknya bisa laku dijual di pekan; kulitnya bertuah, yang memakai kebal dari ancaman manapun. Maka, tak heran banyak orang mencoba memburu kijang satu itu.

Tuk Pelari termasuk salah satunya. Gelar datuk yang dia punya tidak diperolehnya sembarangan. Ia pemburu handal, dikenal se-Kampung Sungaipanjang sampai kampung-kampung tetangga. Buah tangkapannya selalu banyak lagi mengundang ramai, sering sekali dimintai. Kaki dan tangannya lihai lagi cekatan, mampu mengejar macan tercepat sekalipun, mencengangkan kaki-tangannya tiap kali pulang berburu. Matanya jeli melebihi helang, semut paling kecil pun boleh dia tangkap dengan tangan kosong.

Maka, tak heran lah jika muram bukan main Tuk Pelari, tak mampu menangkap kijang itu berpekan-pekan. Lantaran dikagumi orang banyak, sudah banyak pula yang membantunya memburu si kijang; mengejarnya, menembaknya, memerangkapnya, dan lain-lain. Sayang, tidak satu pun mampu membawa si kijang mati maupun hidup-hidup.

Demi menyelesaikan kepelikan ini, di hari bulan penuh Tuk Pelari dengan kawan-kawannya berunding di dangau tengah sawah, ditemani orang kampung lain yang tertarik, tak lupa bali-balian dan cenayang yang menyumbang saran. Setelah tengah malam lewat, dicapailah suatu kesepakatan akan suatu persiapan.

Belakang hari, itu kijang hantu akan meregang nyawa.

Aku Tak Bisa Mengerti

Mari kita bertukar nama; aku menjadi kamu, kamu menjadi aku. Kamu pun membuka mata. Di seberang jendéla, sang bulan telah terbit. Untungny...