Senin, 07 Juni 2021

Berburu Si Kijang Hantu (I)

"Siapa terbang sampai ke puncak
Melayang hingga ke puncak gunung
Siapa pulang kijang diarak
Melayang nyawa di dalam gantung"
 ***
Sudah berpekan-pekan lamanya Tuk Pelari muram. Bini dan anaknya turut gelisah setiap kali ia pulang, biarpun hasil buruan dibopong banyak dan cukup mengisi perut selama sepekan. Sebenarnya, bukan buruan yang sudah ditangkap yang jadi alasan kemuramannya, melainkan yang belum ditangkap.

Dari beberapa bulan lalu, tersebar buah bibir mengenai seekor kijang yang dibilang-bilang tak mampu, tak bisa, tak dapat, dan tak boleh ditangkap. Orang-orang yang pergi ke hutan bilang, itu kijang berlari seolah-olah angin, hanya nampak bila ada di ujung mata. Begitu sengaja dilihat, kijang itu kabur, hilang entah ke mana. Bukan cuma yang berhutan yang melihatnya; yang berladang dan berkebun pun turut menyampaikan demikian.

Buah bibir yang menyebar luas kemudian dipermanisdaging kijang itu sedap bukan main; tanduknya bisa laku dijual di pekan; kulitnya bertuah, yang memakai kebal dari ancaman manapun. Maka, tak heran banyak orang mencoba memburu kijang satu itu.

Tuk Pelari termasuk salah satunya. Gelar datuk yang dia punya tidak diperolehnya sembarangan. Ia pemburu handal, dikenal se-Kampung Sungaipanjang sampai kampung-kampung tetangga. Buah tangkapannya selalu banyak lagi mengundang ramai, sering sekali dimintai. Kaki dan tangannya lihai lagi cekatan, mampu mengejar macan tercepat sekalipun, mencengangkan kaki-tangannya tiap kali pulang berburu. Matanya jeli melebihi helang, semut paling kecil pun boleh dia tangkap dengan tangan kosong.

Maka, tak heran lah jika muram bukan main Tuk Pelari, tak mampu menangkap kijang itu berpekan-pekan. Lantaran dikagumi orang banyak, sudah banyak pula yang membantunya memburu si kijang; mengejarnya, menembaknya, memerangkapnya, dan lain-lain. Sayang, tidak satu pun mampu membawa si kijang mati maupun hidup-hidup.

Demi menyelesaikan kepelikan ini, di hari bulan penuh Tuk Pelari dengan kawan-kawannya berunding di dangau tengah sawah, ditemani orang kampung lain yang tertarik, tak lupa bali-balian dan cenayang yang menyumbang saran. Setelah tengah malam lewat, dicapailah suatu kesepakatan akan suatu persiapan.

Belakang hari, itu kijang hantu akan meregang nyawa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aku Tak Bisa Mengerti

Mari kita bertukar nama; aku menjadi kamu, kamu menjadi aku. Kamu pun membuka mata. Di seberang jendéla, sang bulan telah terbit. Untungny...