Jumat, 04 Juni 2021

Aji-ajian: Mantra dalam Fantasi dan Adaptasinya

Awal Terpikirnya

Semalam, aku terpikir akan mantra. Bukan mantra yang digunakan untuk berdoa atau kegiatan ibadah ya, tapi mantra yang umum digunakan dalam dunia cerita fantasi—kalau dalam bahasa Inggris, namanya spell.

Mantra ini termasuk salah satu jenis sihir (magic) yang perlu dirapal untuk dilakukan. Dalam dunia perfantasian, banyak sekali contoh yang bisa diambil; Harry Potter karya J. K. Rowling adalah penyumbang besar dalam menyebarluaskan mantra-mantra dalam dunia fantasi. Ciptaannya yang terkenal di antaranya:

  • Alohomora
  • Accio
  • Avada kedavra
  • Expecto patronum
Tiap-tiap mantra ini punya asal-usulnya sendiri. Alohomora misalnya, berasal dari sebuah praktik perdukunan Madagaskar yang disebut Sikidy. Ia termasuk salah satu simbol yang digunakan dalam Sikidy, dan akarnya berasal dari kata bahasa Arab الحمر (al-ḥumru) yang berarti mérah. Ada kontrovérsi seputar perkataan Rowling sendiri atas mantra ini, tapi aku enggan membahasnya di sini.

Selain Harry Potter, banyak lagi karya lainnya yang menggunakan mantra dalam persihiran. 無職転生 〜異世界行ったら本気だす (Mushoku Tensei: Isekai Ittara Honki Dasu) karya 理不尽な孫の手 (Rifujin na Mago no Te) termasuk salah satunya. Bahkan nih ya, kalau dibandingkan dengan Harry Potter, Mushoku Tensei punya mantra yang lebih kompléks, yang sayangnya sampai sekarang belum kudapatkan vérsi tertulisnya. Jadinya, nikmati saja vérsi cuplikannya di sini.

Adaptasi ke Cerita Sendiri

Nah, dari dua contoh penggunaan mantra dan sekian banyak yang tak kusebutkan di sini, tinggal satu pertanyaan yang tersisa: bagaimana cara menerapkan mantra dalam ceritaku sendiri nantinya?

Bisa saja sih, aku meniru salah satu cara dari cerita-cerita yang sudah ada, seperti menggunakan mantra singkat ala-ala Harry Potter atau membuat rapalan panjang seperti Mushoku Tensei. Namun, aku tidak mau—keduanya terasa… terlalu "asing". Tidak cocok dengan budaya dan pengertian "sihir" yang ada dalam ceritaku.

Mantra yang Sesuai

Jadi, ceritaku ini menggunakan latar bahasa Cakap Melayu—atau sering disebut Béka Melayu—yang tentunya harus diiringi dengan latar tempat dan budaya yang sesuai juga, ala-ala Melayu dan Asia Tenggara. Perapalan mantra singkat juga panjang rasanya tak sesuai kalau dimasukkan ke dalam budaya seperti ini.

Jadi, harus mantra seperti apa yang kumasukkan ke dalam cerita?

Mencari-cari rujukan di internét ternyata tidak berbuah manis, karena sebagian besar cuma kopas dari satu artikel ke artikel lainnya. Namun, aku dapat inspirasi dari kopas-kopas itu: memakai pantun sebagai médium mantra.

Pantun Aji-ajian

Pantun kupilih menjadi padanan mantra karena terkenal, mudah dikenali, dan tentunya mampu mengandung unsur magis. Selain merupakan puisi yang sudah tertanam rapi dan mendarah daging dalam kebudayaan Melayu serta tetangga-tetangganya, pantun bisa mengandung banyak tema, mulai dari percintaan, canda tawa, sampai unsur-unsur magis. Makanya kuambil puisi ini sebagai medium mantra di Tangelar. Kunamai pantun mantra ini aji-ajian, karena ajian sudah kugunakan sebagai padanan sihir.

Nah, coba dilihat dulu beberapa aji-ajian yang sudah kubuat:

Angin beku jari menggigil
Mengambil nyawa memecah kuku
Angin beku dikau kupanggil
Ambillah nyawa musuh-musuhku

Awan hujan awan berapi
Siram tanaman berair masam
Turun hujan turunkan api
Sirami lawan menjadi asam

Dua aji-ajian ini kubuat mengikuti konsép sihir hitam (black magic), yaitu sihir menyerang. Bisa dimengerti kan, kalau pantun pertama memanggil angin dingin yang membebukan, sedang yang kedua memanggil hujan api.

Timang-timang seolah anak
Ditimang sampai tidurnya léna
Timang-timang seolah minyak
Baluri sampai sembuh lukanya

Aji-ajian yang satu ini kubuat mengikuti konsép sihir putih (white magic), yakni sihir penyembuh. Yang terbayang di kepalaku, orang yang merapal memanggil sejenis minyak yang jika dioléskan mampu menyembuhkan luka.

Rumus

Jika dibaca-baca lagi, kesemua pantun yang kubuat mengikuti satu rumus yang masih dibilang longgar: sampiran menyampaikan sesuatu yang dipanggil, isi menyampaikan panggilannya. Pantun ketiga mungkin bisa dibilang pengecualian, tapi masih bisa diubah nantinya agar lebih mengikuti rumus ini.

Rencana

Nantinya, aku mau menambahkan unsur-unsur saji-sajian ataupun tari-tarian dalam praktiknya. Entah buat apa, belum ketemu gunanya, sih—mungkin untuk memperkuat ajian, nanti bisa kucari lagi. Karena namanya aji-ajian dan ajian, bisa kumasukkan ke dalam ceritanya sekolah yang mengajarkannya. Dengan kata lain, murid-muridnya mengaji dan mengkaji ajian, hehe.

4 komentar:

  1. jadi inget ketika ulangan bahasa indonesia dulu, disuruh menuliskan contoh kalimat dalam sastra yang tergolong puisi lama, saya nulisnya mantra ajian brojomusti :3

    BalasHapus
  2. tambahan, ini mantra Cumulonimbus versi Muse Indonesia https://twitter.com/muse_indonesia/status/1463341609899245579

    BalasHapus

Aku Tak Bisa Mengerti

Mari kita bertukar nama; aku menjadi kamu, kamu menjadi aku. Kamu pun membuka mata. Di seberang jendéla, sang bulan telah terbit. Untungny...