Biar daun-daun belum berembun dan matahari belum juga terbangun, rumah-rumah sudah kosong akan penghuni. Seisi Kampung Sungaipanjang bergerak dalam pemburuan ini; dari pemburu sampai pembantu, dari yang tua sampai yang kanak, dari lelaki dan perempuan sampai dukun dan balian.
Yang masih muda, yang lagi mengandung, dan yang tengah bersakit pada diam di sekitaran kampung, berhati-hati bila-bila datang itu kijang. Tiap-tiap tangan menggenggam satu dari sekian senjata yang tersedia: pedang, parang, keris, tombak, juga panah.
Sementara itu, Hutan Merindang sudah dikepung sisi-sisinya. Obor-obor pantang dibawa menurut perkumpulan semalam—jadinya, hanya atas bulan dan bintang para pemburu boleh melihat. Bayang-bayang pohon menggunung dan daun yang menyelimuti langit menutupi tiap jengkal hutan, semakin menyulitkan orang-orang mencari.
Namun, bukan Tuk Pelari jika tak bergerak di dalam gelap. Dengan pemburu-pemburu lain yang mengikuti dari belakang, ia mengendap-endap, melewati ilalang yang menggesek kakinya dan daun-daun lebar yang mengelus tangannya dingin. Langkah-langkah kaki diam, agar tiada satu barang pun berbunyi, memberi tahu si kijang dia akan dibunuh mati malam itu juga.
Tiba-tiba, Tuk Pelari berhenti. Berhentilah pula orang-orang yang mengikuti.
Di depan sana, di balik kabut, terlihat sekelebat bayangan tengah berdiri sendiri. Tanduknya tinggi lagi besar. Tubuhnya kekar. Kakinya panjang.
Tak salah lagi. Ini adalah kali kesatu Tuk Pelari mampu menatap si kijang hantu di depan mata.
Tangannya diangkat. Aba-aba berpencar. Orang-orang mengendap-endap lagi mengelilingi si kijang.
Tangannya dikepal. Aba-aba bersiap. Anak-anak panah ditarik dalam busurnya. Tombak-tombak diangkat sebahu, siap diluncurkan kapan saja.
Tangannya diayun. Aba-aba menembak.
Puluhan panah melesat dari balik dedaunan. Sekian menancap di batang pohon. Sekian mendarat di atas tanah. Namun tak satu pun mengenai si kijang, lantaran sudah terlanjur berlari dia ke tengah hutan.
Tiada barang sekedip patut disia-siakan. Seisi kelompok bergerak gesit menembus hutan. Langkah yang tadinya pelan kini berlari cepat, menggemertakkan daun dan ranting kering sepanjang jalan. Rintang akar-akar gergasi tak menghalangi kejar-kejaran. Angin dingin yang berhembus kencang seraya berlari mengelap keringat yang menetes membasahi pipi.
Tuk Pelari kembali mengangkat busurnya sembari kakinya berderap melintasi akar dan daun kering. Kijang itu sudah di depan matanya; bila boleh dia tembakkan panahnya mengenainya, maka usailah sudah pemburuan ini. Maka, ia ambil sepucuk panah, lalu dikencangkan dalam busurnya. Matanya dipejamkan sebiji, panahnya mengarah tepat ke arah ubun-ubun si kijang.
Panah ini bukan sembarang panah. Sudah dijampi-jampi, dibersihkan, juga ditajamkan benar-benar. Tak boleh disia-siakan perundingan dan persiapan semalam, dan harus dia dapatkan itu kijang pagi ini juga.
Ia lepas jepit jarinya. Bunyi seliung dari busurnya mengiringi anak panah yang melesat kencang, membelah angin, lurus menuju sasarannya, dan menancap tepat di belakang lehernya.
Kijang itu jatuh. Para pemburu berhenti berlari.
Tuk Pelari juga terjatuh tiba-tiba. Di lehernya, tertancap pula panah sebatang, seiras serasi dengan panah yang tertancap di leher si kijang.