Dalam sudut pandang orang Tengelar, seseorang dibagi menjadi telu:
1) Awak, boléh juga disebut tubuh.
2) Nyawa
3) Semangat
Ketelu bagian ini mempunyai sebutan-sebutan sendiri setelah mati. Namun, harus ditangkap dulu yang disebut mati ini apa: kebalikan hidup, yaitu setelah orang tak lagi sadar, membuka mata, dan mampu menghidupi dirinya dan orang lain.
***
Setelah mati, tubuh seseorang akan tetap diam di tempatnya berada. Ia tak lagi bergerak dan berpindah-pindah. Maka dari itu, keadaan ini disebut meninggal; tubuhnya tetap tinggal di tempatnya berada. Ada pula orang yang menyebutnya menutup mata, lantaran orang yang sudah meninggal tak lagi membuka matanya.
Setelah meninggal, ada dua jalan yang boléh ditempuh. Satu, tubuhnya berkalang tanah; ia diletakkan di atas tanah, entah telentang entah telungkup. Dua, tubuhnya diketanahkan; ia dimasukkan ke dalam tanah, lalu ditutup dengan tanah pula. Boléh pula ini disebut membaham tanah, lantaran mulutnya penuh tanah. Masing-masing orang dan tempat melakukan salah satunya terhadap orang yang meninggal. Lain tempat, lain orang, lain pula yang dilakukan.
Setelahnya, baik dikalangkan tanah maupun diketanahkan, orang-orang yang sudah meninggal akan berputih tulang; kulitnya menghilang, dan tulang putihnya nampak. Dari bau busuk yang dikeluarkan, ada yang menyebutnya membusuk.
***
Nyawa adalah bagian yang selanjutnya hilang setelah mati.
Di detik-detik orang meninggal, ia meregang nyawa. Angin yang dihirup dan dihembuskan meregang dan menegang dalam tubuhnya, tak keluar juga tak masuk.
Setelahnya, nyawa yang ditahan-tahan pun lepas, putus dari tubuhnya. Inilah alasan orang-orang menyebutnya putus nyawa.
Barulah setelah meninggal, nyawanya melayang. Nyawa yang terlepas menyatu dengan angin, melayang berhembus, menyatu dengan lingkungan sekitar.
Bagi orang-orang yang diputuskan nyawanya oléh yang tak kasat mata, ada sebutannya sendiri: cabut nyawa. Mambang, angin, dan lainnya mampu mencabut nyawa orang semaunya sendiri.
***
Semangatlah bagian yang setelah mati tak hilang, tak lenyap. Semangat akan terus hidup, dan mampu bersatu dengan poyang-poyang terdahulu setelah diperboléhkan melalui serangkaian pembersihan. Setelah dibersihkan demikian, barulah ia boléh berpulang menuju kediaman poyang-poyangnya.
Namun, semangat boléh padam. Ada orang yang tak senang dengan orang yang meninggal, maka boléh dia padamkan semangatnya dengan menghilangkan seluruh peninggalannya: keturunannya, orang tuanya, barang-barangnya, dan gagasan-gagasannya. Selepas ini, orang tersebut boléh disebut menghilang; tak satu pun darinya ada yang tersisa.